LUBANG KECIL DI LANGIT

JAM TANPA JARUM

Di bulan ini
aku memindahkan jam dari dinding ke dalam dada.
Waktu tidak lagi bergerak dengan angka
melainkan dengan haus.
Siang menjadi padang yang luas—
angin lewat tanpa suara
lidah seperti daun yang menunggu hujan.
Aku berjalan melewati diri sendiri yang biasanya tergesa-gesa.
Ia menatapku heran, seolah aku baru saja menanggalkan sesuatu yang tak terlihat.
Menjelang senja
langit seperti mangkuk tembaga retak.
Seseorang di dalam tubuhku akhirnya berhenti meminta.
Dan ketika air menyentuh bibir
yang mengalir bukan sekadar lega—
melainkan sejenis pengakuan bahwa aku terlalu sering menjadi ribut
di dalam sunyi.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

LUBANG KECIL DI LANGIT

Ada malam yang tidak menurunkan cahaya
hanya membuka lubang kecil di langit yang gelap.
Orang-orang menyebutnya dengan nama
memburunya lewat doa panjang
dengan mata yang menolak tidur.
Aku tidak mencari di atas.
Aku menemukannya di retakan kecil kesabaranku.
Ketika amarah hendak tumbuh
ia mengendap seperti bara.
Ketika ingin dipuji
ia menggeser bayanganku sedikit ke belakang.
Malam itu tidak spektakuler.
Ia hanya membuatku sadar bahwa rahasia terbesar
sering bersembunyi
di tempat yang tak ingin kita lihat.

MEJA MAKAN YANG DIAM

Meja makan siang itu kosong.
Piring tertata seperti kenangan yang belum disentuh.
Dapur tetap menyala
bukan untuk mengenyangkan
melainkan untuk menguji.
Aku duduk berhadapan dengan keinginanku sendiri.
Ia bersuara lirih
lebih jujur dari biasanya.
Ternyata lapar adalah bahasa yang paling tua.
Ia tidak berteriak
hanya mengingatkan
bahwa tubuh ini tanah
dan tanah tahu caranya menunggu hujan.
Ketika azan mengudara
suara itu seperti pintu dibuka perlahan.
Yang masuk bukan hanya makanan
melainkan semacam keringanan
yang tak bisa dibeli, apalagi dengan kelalaian.

KOTA MENJELANG SENJA

Halaman: 1 2 Show All

Tinggalkan Balasan