Kemarau yang Basah

Kemarau datang lebih cepat tahun itu. Tanah di Desa Pangarengan pecah seperti piring yang retak. Sawah-sawah yang biasanya hijau berubah menjadi hamparan cokelat pucat. Angin yang bertiup dari arah perbukitan membawa debu, bukan lagi bau tanah basah seperti musim sebelumnya.

Setiap pagi, sebelum Matahari meninggi, Dini berjalan menuju sumur di belakang rumahnya. Ia membawa dua ember plastik yang sudah mulai kusam. Sumur itu dulunya dalam dan dingin, tetapi kini airnya tinggal sedikit, seperti napas orang yang hampir habis.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Ia menurunkan timba perlahan. Tali yang kasar bergesekan dengan bibir sumur, menimbulkan bunyi berderit yang sepi. Setelah beberapa saat, terdengar bunyi kecil timba menyentuh air. Dini menariknya pelan-pelan. Air yang terangkat tak pernah penuh lagi. Hanya setengah timba, kadang bahkan kurang. Ia menuangkannya ke dalam ember sambil menghela napas.

Di halaman rumah, dua batang cabai yang masih hidup berdiri layu. Dini menyiramnya dengan air yang sangat sedikit. Ia tahu tanaman itu mungkin tak akan bertahan lama, tetapi ia tetap menyiramnya, seperti seseorang yang masih berharap meski tahu harapannya hampir habis.

Rumahnya kecil, berdinding papan yang mulai lapuk. Di dalamnya hanya ada tikar, meja kayu, dan lemari tua yang sudah lama tak dikunci. Dulu rumah itu tidak terasa sunyi. Dulu ada suara langkah seorang laki-laki yang sering pulang dengan tubuh penuh debu sawah.

Namanya Bima, suami Dini. Namun sejak kemarau panjang membuat sawah tak lagi bisa ditanami, Bima pergi ke kota untuk mencari pekerjaan. Ia berjanji akan kembali setelah keadaan membaik. Sudah delapan bulan sejak hari itu. Sejak itu pula, desa Pangarengan terasa seperti musim yang tak kunjung selesai.

Awalnya, Dini masih menerima kabar. Sebulan setelah Bima pergi, datang sebuah pesan melalui tetangga yang kebetulan pulang dari kota. Bima bekerja di proyek pembangunan gedung. Pekerjaannya berat, tetapi ia berkata semuanya baik-baik saja.

Dua bulan kemudian, ada kabar lagi. Kali ini melalui telepon umum milik kepala desa. Suara Bima terdengar jauh dan putus-putus. Ia mengatakan akan mengirim uang sebentar lagi.

Dini menunggu dengan sabar. Ia selalu percaya pada kata-kata suaminya. Namun setelah itu, kabar mulai jarang datang. Telepon tak pernah berbunyi lagi. Tak ada pesan yang dititipkan pada orang yang pulang dari kota.

Desa semakin kering. Sumur-sumur di rumah warga mulai mengering satu per satu. Banyak keluarga memutuskan pergi ke kota atau ke desa lain yang masih memiliki air. Tetangga Dini, Pak Juna, menjual rumahnya dan pindah bersama keluarganya.

“Kalau kamu mau ikut ke kota, ikut saja,” katanya suatu sore.

Dini hanya tersenyum kecil. “Aku masih menunggu.” Pak Juna mengangguk, meskipun ia tahu menunggu adalah pekerjaan yang paling melelahkan.

Hari-hari berjalan lambat. Dini menghabiskan waktunya dengan menimba air, menyapu halaman, dan duduk di teras saat sore tiba.

Setiap kali melihat jalan tanah yang menuju desa, hatinya berdebar seolah-olah Bima mungkin akan muncul dari kejauhan. Namun jalan itu selalu kembali kosong.

Kemarau semakin keras. Sumur di belakang rumah Dini kini hampir tak mengeluarkan air. Ia harus menarik timba berkali-kali untuk mendapatkan sedikit air yang tersisa. Kadang ia pergi ke sumur umum di ujung desa. Perjalanan itu cukup jauh, dan antrean orang yang menunggu air semakin panjang. Di sana, orang-orang sering berbicara tentang kesulitan hidup. Ada yang kehilangan ternak karena kekurangan air. Ada yang memutuskan menjual tanahnya.

Suatu siang, seorang perempuan berkata dengan suara pelan, “Katanya di kota juga tidak mudah. Banyak pekerja yang kecelakaan di proyek.” Dini pura-pura tidak mendengar.

Ia menatap embernya yang hampir kosong. Malam-malamnya menjadi semakin sunyi. Angin kering berdesir di sela-sela papan dinding rumah. Kadang Dinii terbangun karena mimpi buruk mimpi tentang Bima yang berjalan di tengah debu tanpa pernah sampai di rumah. Air matanya sering jatuh tanpa ia sadari.

Ia menangis saat menimba air. Ia menangis saat menyapu halaman. Ia bahkan menangis ketika menyiram tanaman cabai yang hampir mati. Ironi, meskipun desa sedang mengalami kemarau, hidup Dini terasa semakin basah oleh air mata.

Suatu sore, ketika Matahari hampir tenggelam, ia duduk di tangga rumah. Matanya menatap langit yang pucat. “Kenapa lama sekali pulangnya?” bisiknya pelan. Tak ada yang menjawab.

Kabar itu datang pada siang yang sangat panas. Seorang lelaki asing berhenti di depan rumah Dini. Ia mengenakan topi lusuh dan membawa tas kecil. “Apakah ini rumah Bima?” tanyanya. Dini mengangguk. Lelaki itu terlihat ragu sejenak sebelum membuka tasnya. Dari dalamnya, ia mengeluarkan sebuah amplop dan menyerahkannya. “Saya teman kerjanya di kota.” Jantung Dini berdegup kencang. “Bima… bagaimana?” Lelaki itu menunduk.

“Dia mengalami kecelakaan di proyek tiga minggu lalu.”

Dunia terasa berhenti. Dini memandang amplop di tangannya tanpa berani membukanya. “Dia tertimpa besi saat bekerja di lantai atas,” lanjut lelaki itu dengan suara berat. “Kami sudah berusaha menolongnya.” Kalimat berikutnya tak benar-benar ia dengar. Suara lelaki itu seperti tenggelam jauh di dalam kepalanya.

Dini akhirnya membuka amplop itu dengan tangan gemetar. Di dalamnya ada beberapa lembar uang dan secarik kertas. Tulisan tangan Bima memenuhi kertas itu. Jika uang ini sampai lebih dulu dariku, jangan khawatir. Aku pasti pulang setelah pekerjaan selesai. Huruf-huruf itu tampak kabur di mata dini. Air mata mengalir tanpa bisa ditahan. Di luar, Matahari masih menyengat. Tanah tetap retak. Desa tetap kering. Namun di dalam hatinya, hujan turun tanpa henti.

Beberapa hari setelah kabar itu datang, desa tetap sama keringnya. Sumur-sumur masih surut. Sawah-sawah tetap retak. Namun Dini mulai menjalani hari-harinya dengan cara yang berbeda. Ia masih pergi ke sumur setiap pagi. Ia masih menyiram tanaman yang hampir mati. Tetapi, kini ia tidak lagi menunggu langkah kaki di jalan tanah itu.

Suatu sore, langit mendadak berubah gelap. Angin bertiup lebih dingin dari biasanya. Orang-orang keluar dari rumah mereka, menatap ke atas dengan harapan yang lama tak muncul. Setetes air jatuh ke tanah. Lalu setetes lagi. Tak lama kemudian, hujan turun pelan, lalu semakin deras.

Anak-anak berlari di jalan sambil tertawa. Orang-orang menengadahkan wajah mereka, membiarkan air membasahi kulit yang lama kering. Dini berdiri di depan rumahnya. Ia tidak bergerak saat hujan membasahi rambut dan pakaiannya. Air dari langit bercampur dengan air yang mengalir dari matanya. Kemarau panjang akhirnya pecah. Dan untuk pertama kalinya sejak kabar itu datang, Dini merasa dadanya sedikit lebih ringan.

Ia menatap langit yang kelabu dan berbisik pelan, seolah berbicara pada seseorang yang sangat jauh. “Sekarang hujan sudah datang.” Tanah yang retak mulai basah. Sawah-sawah mungkin akan hijau kembali suatu hari nanti. Dan kemarau di hatinya yang selama ini basah oleh air mata perlahan belajar untuk mengering.

Pangarengan, Maret 2026.

Tinggalkan Balasan