Suatu sore, ketika Matahari hampir tenggelam, ia duduk di tangga rumah. Matanya menatap langit yang pucat. “Kenapa lama sekali pulangnya?” bisiknya pelan. Tak ada yang menjawab.
Kabar itu datang pada siang yang sangat panas. Seorang lelaki asing berhenti di depan rumah Dini. Ia mengenakan topi lusuh dan membawa tas kecil. “Apakah ini rumah Bima?” tanyanya. Dini mengangguk. Lelaki itu terlihat ragu sejenak sebelum membuka tasnya. Dari dalamnya, ia mengeluarkan sebuah amplop dan menyerahkannya. “Saya teman kerjanya di kota.” Jantung Dini berdegup kencang. “Bima… bagaimana?” Lelaki itu menunduk.

“Dia mengalami kecelakaan di proyek tiga minggu lalu.”
Dunia terasa berhenti. Dini memandang amplop di tangannya tanpa berani membukanya. “Dia tertimpa besi saat bekerja di lantai atas,” lanjut lelaki itu dengan suara berat. “Kami sudah berusaha menolongnya.” Kalimat berikutnya tak benar-benar ia dengar. Suara lelaki itu seperti tenggelam jauh di dalam kepalanya.
Dini akhirnya membuka amplop itu dengan tangan gemetar. Di dalamnya ada beberapa lembar uang dan secarik kertas. Tulisan tangan Bima memenuhi kertas itu. Jika uang ini sampai lebih dulu dariku, jangan khawatir. Aku pasti pulang setelah pekerjaan selesai. Huruf-huruf itu tampak kabur di mata dini. Air mata mengalir tanpa bisa ditahan. Di luar, Matahari masih menyengat. Tanah tetap retak. Desa tetap kering. Namun di dalam hatinya, hujan turun tanpa henti.
Beberapa hari setelah kabar itu datang, desa tetap sama keringnya. Sumur-sumur masih surut. Sawah-sawah tetap retak. Namun Dini mulai menjalani hari-harinya dengan cara yang berbeda. Ia masih pergi ke sumur setiap pagi. Ia masih menyiram tanaman yang hampir mati. Tetapi, kini ia tidak lagi menunggu langkah kaki di jalan tanah itu.
Suatu sore, langit mendadak berubah gelap. Angin bertiup lebih dingin dari biasanya. Orang-orang keluar dari rumah mereka, menatap ke atas dengan harapan yang lama tak muncul. Setetes air jatuh ke tanah. Lalu setetes lagi. Tak lama kemudian, hujan turun pelan, lalu semakin deras.
Anak-anak berlari di jalan sambil tertawa. Orang-orang menengadahkan wajah mereka, membiarkan air membasahi kulit yang lama kering. Dini berdiri di depan rumahnya. Ia tidak bergerak saat hujan membasahi rambut dan pakaiannya. Air dari langit bercampur dengan air yang mengalir dari matanya. Kemarau panjang akhirnya pecah. Dan untuk pertama kalinya sejak kabar itu datang, Dini merasa dadanya sedikit lebih ringan.
Ia menatap langit yang kelabu dan berbisik pelan, seolah berbicara pada seseorang yang sangat jauh. “Sekarang hujan sudah datang.” Tanah yang retak mulai basah. Sawah-sawah mungkin akan hijau kembali suatu hari nanti. Dan kemarau di hatinya yang selama ini basah oleh air mata perlahan belajar untuk mengering.
