Di era informasi mengalir tanpa bendung dan otoritas kebenaran tidak lagi tunggal, sebuah fenomena sosiologis muncul ke permukaan. Generasi Z (mereka yang lahir antara pertengahan 1990-an hingga awal 2010-an) menunjukkan kecenderungan yang kuat untuk mempertanyakan, menggugat, bahkan mendekonstruksi pemahaman agama yang diwariskan kepada mereka.
Pertanyaan-pertanyaan seperti “Mengapa agama saya mengklaim paling benar?” atau “Mengapa institusi agama tampak diam terhadap ketidakadilan?” menjadi narasi harian di ruang-ruang digital. Fenomena ini bukanlah sekadar pemberontakan remaja, melainkan sebuah pergeseran paradigma yang sangat dalam jika ditinjau dari perspektif teologis, sosiologis, dan historis.

Dari Taklid ke Autentisitas
Agama sering kali dipahami sebagai kumpulan dogma yang harus diterima melalui iman. Namun, karakteristik dasar Gen Z adalah pencarian akan autentisitas. Dalam teologi klasik, ada konsep fides quaerens intellectum (iman yang mencari pemahaman) yang dikemukakan oleh Anselmus dari Canterbury. Gen Z menghidupkan kembali semangat ini, namun dengan nada yang lebih skeptis. Mereka tidak puas dengan jawaban “karena sudah tertulis demikian.”
Bagi mereka, Tuhan Yang Maha Kasih sering kali tampak kontradiktif dengan narasi teologis yang menekankan hukuman, eksklusi, dan kebencian terhadap kelompok yang berbeda. Secara normatif, mereka sedang mencari “Tuhan yang relevan”—Tuhan yang hadir dalam isu kesehatan mental, keadilan sosial, dan kesetaraan. Ketegangan ini muncul karena adanya jarak antara teologi tekstual yang kaku dengan teologi kontekstual yang dibutuhkan untuk menjawab keresahan eksistensial mereka.
Dunia yang “Cair”
Secara sosiologis, Gen Z hidup dalam apa yang disebut Zygmunt Bauman dalam bukunya Liquid Modernity (2000) sebagai “modernitas cair”. Dalam masyarakat cair, institusi yang dulu dianggap absolut, seperti negara dan agama, kehilangan daya ikatnya. Keamanan yang dulu didapat dari kepatuhan pada tradisi kini digantikan oleh kebebasan individu untuk memilih identitasnya sendiri.
Secara historis, kita bisa merujuk pada pemikiran Charles Taylor dalam bukunya yang sangat berpengaruh, A Secular Age (2007). Taylor menjelaskan bahwa kita tidak lagi hidup dalam zaman di mana kepercayaan pada Tuhan adalah sesuatu yang “taken for granted” atau otomatis. Hari ini, percaya pada agama hanyalah salah satu opsi di antara banyak pilihan hidup lainnya. Bagi Gen Z, “pindah keyakinan” atau menjadi “agnotis” adalah pilihan yang tersedia di atas meja, bukan lagi tabu sosial yang mengerikan seperti pada generasi baby boomers.
