Keris Warisan

Aku dan ayah sering memberi saran kepada ibu agar tidak terlalu memperlakukan keris itu secara  tidak wajar. Sebab, selama ini ibu sering memperlakukan keris itu dengan hal-hal yang menurutku nyeleneh; ia sering menjilatnya ketika malam Jumat Legi. Bila malam 1 Asyura, ibu membawa keris itu ke kuburan kakek dan dijaganya hingga subuh. Bila hujan turun disertai petir, ibu akan melarung keris itu di halaman. Hal-hal nyeleneh itu tetap ibu lakukan meski aku dan ayah sering melarangnya. Keris itu bagi ibu seperti kekasih yang melulu minta dimanja.

#

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Sebagai juragan besi tua, ayah sering pergi ke luar kota. Semakin hari usaha ayah semakin berkembang. Aku sebagai anak satu-satunya merasa seolah ada banjir rezeki yang selalu Allah kirim kepada keluargaku.

Rumah kami telah direhab menjadi rumah paling mewah di dusun ini. Di garasi ada dua mobil mewah dan satu truk. Ayah juga punya empat lokasi tambak udang yang dikelola oleh koleganya. Di rumah kami sudah ada seorang pembantu wanita yang bekerja untuk keperluan dapur dan hal-hal ringan lainnya. Ayah mendatangkan pembantu itu sedianya untuk melonggarkan kesibukan ibu agar ia bisa membantu ayah memikirkan bisnisnya. Tapi maksud ayah itu sia-sia belaka. Dengan longgarnya waktu, ibu malah semakin sibuk merawat keris warisan kakek.

Setiap hari ibu sering ada di kamar tempat keris itu disimpan. Meski ayah berulang kali memintanya untuk turut mengurusi bisnis, tapi ibu setengah menolak dengan alasan bahwa mengurus keris itu pada hakikatnya adalah membantu bisnis ayah secara utuh. Aku dan ayah semakin mengerutkan dahi, bahkan ayah kadang berbisik kepadaku, jangan-jangan ibu sudah terkena penyakit jiwa.

“Apa? Kalian kira aku terserang penyakit jiwa? Goblok sekali kalian. Justru dengan kekuatan keris ini kita bisa menjadi seperti ini,” pekik ibu suatu pagi dengan mata terbelalak, ketika ayah berani melontarkan dugaannya kepada ibu ketika kami duduk bersama sehabis makan.

Setelah peristiwa itu, ibu lebih banyak diam, seolah bibirnya tak mampu untuk digerakkan lantaran dikunci oleh emosinya yang meluap saat disinggung ayah. Kalau pun berbicara, ia akan berbicara seperlunya, tidak lebih, dan tak pernah memulai pembicaraan kecuali sekadar menjawab pertanyaan bila ada yang mengutarakan. Wajah ibu selalu menampakkan ekspresi marah. Setiap kali aku berpapasan, ibu nyaris selalu berusaha untuk tidak menatap wajahku, bibirnya jarang menganyam senyum. Mungkin ibu menganggapku berkomplot dengan ayah sehingga ia juga sedikit kesal kepadaku.

Seiring putaran waktu, ibu semakin banyak menghabiskan waktu dengan berlama-lama di kamar tempat keris itu disimpan. Kerap kutemui ia duduk bersila sembari memegang keris kesayangannya. Semangkuk air kembang bertatakan selembar kain putih tersedia di hadapannya. Sedang di sampingnya, sebatang setanggi selalu mengepulkan asap wangi.

Suatu hari, ketika ibu sedang bepergian, ayah tak menyiakan kesempatan. Ia mengambil keris itu dan segera menelepon salah satu temannya yang gemar mengoleksi benda–benda pusaka. Pada hari itu juga ayah menjualnya dan ternyata keris itu hanya laku seharga dua ekor kambing biasa. Aku dan ayah tertawa bahagia di ruang tamu.

Tawa dan kebahagiaan kami perlahan pudar setelah ibu datang dan mendapati keadaan kamar yang sudah tanpa keris bergantung. Ibu menanyakannya dengan wajah merah penuh amarah. Ayah menjelaskan dengan jujur.

Tinggalkan Balasan