Keris Warisan

“Dan tujuanku tidak lain supaya Mama lebih menikmati kekayaan kita daripada selalu berdiam di kamar dengan  keris itu. Selain itu, saya juga ingin Mama membantu memikirkan bisnis kita ke depan,” ungkap ayah kepada ibu.

Ibu tak menjawab apa-apa. Ia masuk ke dalam kamar sambil membanting pintu sangat keras. Aku dan ayah sebentar saling pandang. Ayah mengetuk pintu berkali-kali sambil menjelaskan kembali perihal tujuan dirinya menjual keris itu. Ibu tetap tak menjawab apa pun. Pintu kamar itu tetap bisu laiknya batu.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

#

Yang ibu bisa lakukan kini, hanya berdiri di depan jendela. Rambutnya awut-awutan penuh ketombe dan telur kutu. Wajahnya pucat. Tubuhnya kian susut dan menampakkan belukar tulang. Sepasang matanya suram dan selalu menatap kosong ke luar jendela. Tak sekali pun ia mandi. Bibirnya hanya mau bicara lima sampai enam kata tiap hari. Itu pun bicara sendiri semaunya. Ibu sangat terpukul dengan dijualnya keris itu. Sudah puluhan tabib yang menanganinya, tapi semua sia-sia.

Sementara bisnis ayah berbalik bangkrut. Harta kekayaan kami terjual satu per satu. Bi Iyam, pembantu kami terpaksa ayah lepas karena sudah tidak mampu membayarnya. Kini ayah memasak sendiri, kadang aku membantunya, termasuk melakukan aktivitas rumah lainnya. Kebahagiaan kami perlahan juga lenyap, berganti luka-luka dalam batin. Ayah pun sering termenung di dekat ibu. Aku merasakan kehidupan kami seperti kembali pada keadaan semula; miskin dan penuh luka.

Di suatu senja yang senyap, secara tak terduga ibu mendekati kami saat aku dan ayah tengah duduk di beranda. Ibu seperti hendak menyampaikan sesuatu dengan langkah tergopoh dan mata yang sedikit binar. Aku dan ayah menyambutnya dengan tatap yang teduh dan senyum lembut. Setelah duduk dan sedikit mengambil napas, lalu ia mulai berbicara.

“Kata tetua Madura setiap benda warisan tak boleh dijual, tapi harus diwariskan secara turun-temurun. Apalagi keris milikku itu, kata almarhum bapak keris itu bisa mendatangkan kekayaan. Itulah sebabnya aku disiplin merawatnya. Membasuh dan menusukkannya ke tanah hingga berpupur pasir, pasir itu lambang kekayaan dan kejayaan yang melekat pada hidup kita. Tapi keris itu sudah dijual. Maka wajar bila kekayaan kita juga pergi,” kata ibu sambil membuang pandang keluar.

Itu perkataan ibu yang paling panjang setelah selama ini lebih sering membisu. Kata-kata itu membuatku terkejut dan mengernyitkan dahi, juga membuat ayah bangkit dan menganga.

ilustrasi: galeri omah nara.

Tinggalkan Balasan