Tembang sore mengalun dari sound system menerobos sudut-sudut kampung kecil itu. Tembang itu adalah tembang pesta pernikahan Puspitasari dengan Joko. Meriah sekali pesta itu. Dan di sudut yang lain, Fajar merasa tembang itu adalah sembilu yang menyayat hatinya. Pemuda yang tengah patah hati itu sedang membuat api unggun membakar ketela bersama adiknya.
“Mas Fajar nggak datang ke pernikahannya Mbak Sari?”

“Nggak.”
“Kenapa?”
Fajar diam membiarkan adiknya itu tidak mendapat jawaban. Suara dendang tembang itu pun tiba-tiba juga terhenti berganti tabuh beduk disusul suara adzan bersahut-sahutan dari surau-surau. Waktu maghrib telah tiba. Dari surau dekat rumahnya kemudian terdengar suara ayahnya melantunkan pujian, menantikan jemaah.
tombo ati ono limo perkarane
kaping pisan moco qur’an angen-angen sak maknane
kaping pindo wong kang soleh kumpulono
kaping telu shalat wengi lakonono
kaping papat weteng iro ingkang luwe
kaping limo dzikir wengi ingkang suwe
salah sijine sopo biso ngelakoni
insyaallah Gusti Allah ngijabahi
