Ketika Diam Menjadikan Kita “Setan Bisu”

Sementara, شيطان أخرس (syaithan akhras) artinya “setan yang bisu”. Kata “setan” melambangkan sumber dari segala sifat jahat, manipulatif, dan destruktif. Sedangkan, “bisu” di sini menunjukkan ketidakmampuan—atau lebih tepatnya keengganan yang disengaja—untuk berbicara demi kebaikan.

Ketika kedua kata ini digabungkan, maknanya menjadi sangat mendalam sekaligus mengerikan. Orang yang diam dari kebenaran disamakan dengan setan yang membisukan diri. Mengapa? Karena secara tidak langsung, sikap pasif tersebut justru memberikan karpet merah bagi keburukan untuk menyebar luas tanpa ada perlawanan.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

 

Bahayanya Kejahatan Pasif

Banyak dari kita yang terjebak dalam ilusi moral. Kita berpikir bahwa selama kita tidak mencuri, tidak menyakiti orang lain, atau tidak melakukan kriminalitas, maka kita adalah “orang baik”.

Sayangnya, konsep tersebut keliru. Diam dalam situasi di mana kebenaran dilanggar dianggap sama berbahayanya dengan perbuatan jahat itu sendiri. Dalam psikologi, ini mirip dengan Bystander Effect, di mana semakin banyak orang yang diam, semakin langgeng sebuah kejahatan terjadi.

Jika saat kita memilih bungkam ketika melihat ketidakadilan, maka sadar atau tidak, kita sedang terlibat setidaknya dalam tiga kejahatan. Pertama, membiarkan kezaliman tumbuh subur. Kejahatan tidak selalu menang karena jumlah orang jahat yang banyak, tetapi karena orang-orang baik memilih untuk tidak peduli.

Tinggalkan Balasan