Ketika Dokter Soetomo Berbicara Tentang Pesantren

Di satu kubu, pendukung sekolah modern kolonial, para pejabat kolonial dan intelektualnya, seperti Sutan Takdir Alisjahbana, Sutan Sjahrir, Armin Pane, dan kelompok Pujangga Baru, mengampanyekan pencerdasan anak-anak bangsa melalui sekolah sekolah modern untuk mencintai pemerintah kolonial.

Pada tahun 1930-an, di tengah gempuran gagasan Eropa sentris yang dibawa oleh pemerintah kolonial begitu mewarnai kancah pemikiran perihal kebudayaan di Tanah Air. Bagaimana tidak, Sutan Takdir Alisjahbana (STA) melalui esainya yang bertajuk “Didikan Barat dan Didikan Pesantren: Menuju ke Masyarakat yang Dinamis” menganggap pendidikan harus dijauhkan dari pesantren. Alasannya, pendidikan pesantren memuat anti-intelektualisme, anti-individualisme, anti-egoisme, anti-materialistik”.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Pernyataan sarkastik STA begitu menampar gagasan Soetomo yang mendukung arus pesantren sebagai model pendidikan Indonesia. Bahkan, dengan kerasnya, STA mengatakan jika persatuan yang berpusat pada kiai dan pesantren menjadi penyebab atas jatuhnya bangsa ini.

STA, dalam sadurannya memiliki asumsi bahwa kebudayaan Barat yang mengutamakan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, ekonomi, dan keterampilan berorganisasi, perlu ditiru oleh bangsa Indonesia agar setara, bahkan bisa lebih dinamis dari Barat.

Tinggalkan Balasan