Selasa malam, 27 Januari 2026, bengkel kerja jejaring duniasantri (JDS) lantai 3 di Jalan Garuda II Nomor 7, Kelapa Dua, Depok, menjelma menjadi ruang perjumpaan yang hangat dan bersahaja. Ruang semi-outdoor itu tidak ditata dengan kursi-kursi berbaris rapi, melainkan dibiarkan terbuka dan bernapas apa adanya.
Para tamu duduk lesehan, beralas tikar dan karpet, menciptakan suasana yang sejak awal terasa akrab dan tidak berjarak—seolah ruang tersebut memang disiapkan untuk mempertemukan lintas generasi dalam posisi yang setara, tanpa sekat, tanpa panggung tinggi, tanpa hierarki yang kaku.


Ketika waktu bergerak menuju pukul 18.30 WIB, dua sosok muda mengambil peran penting di tengah ruang lesehan itu. Mereka adalah Nayla Authar dan Kayla Nareswari, dua generasi Gen-Z yang bertugas memandu jalannya acara. Mereka menjadi master of ceremony (MC). Generasi mereka menyebutnya “ngemsi“.
Kayla Nareswari merupakan siswi SMK BOASH 1, kelas 12 BROADCASTING 1 Bogor, sementara Nayla Authar adalah mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Latar pendidikan yang berbeda itu justru memperlihatkan satu kesamaan: keduanya terbiasa berada di ruang-ruang perjumpaan, ruang dialog, dan ruang belajar yang menuntut kepekaan membaca situasi, sekaligus ketenangan dalam menghadapi keragaman usia dan pengalaman.
Sebagai pemandu acara, Nayla Authar dan Kayla Nareswari tampak tidak canggung, sekalipun yang hadir malam itu adalah para tokoh nasional, generasi milenial, hingga emak-emak yang telah lebih dulu mengisi ruang. Cara mereka berdiri, menyapa, lalu kembali duduk lesehan menunjukkan sikap yang tenang dan terukur. Keduanya seolah berhadap-hadapan dengan lingkar pergaulan mereka sendiri—baik di bangku sekolah (Kayla) maupun di ruang kampus (Nayla)—tanpa beban hierarki yang kaku, tanpa gestur yang ingin meninggikan diri.
Nayla dan Kayla membuka acara dengan sigap. Mereka menyapa hadirin dengan suara yang stabil dan ekspresi yang bersahaja. Tidak ada gestur berlebihan, tidak pula nada yang dibuat-buat. Dalam ruang lesehan yang cair itu, kehadiran mereka terasa menyatu dengan suasana. Bukan menonjol untuk menegaskan posisi, melainkan hadir untuk merawat alur dan kebersamaan.

Acara kemudian dibuka dengan penampilan Hadrah Banjari Assalam, yang anggotanya adalah para ibu, atau emak-emak dalam bahasa pergaulan saat ini. Emak-emak yang sejak awal duduk lesehan itu perlahan bergeser, mengambil posisi tampil tanpa hiruk-pikuk. Rebana mulai ditabuh, lalu lantunan selawat pun mengalun—sebuah ungkapan cinta yang ditujukan kepada Kanjeng Nabi Muhammad SAW, Nabi Pujaan yang kehadirannya senantiasa dirindukan dalam ingatan dan doa. Setiap irama terasa seperti sapaan, setiap bait seperti salam penyambutan, mengikat ruang dengan cinta dan kerinduan yang sama.
Para undangan tampak larut dalam alunan tersebut. Kepala menunduk, bibir bergetar mengikuti syair, sebagian mata terpejam menahan haru. Dalam ritme hadrah itu, kerinduan dipelihara dan cinta diteguhkan. Hingga tiba mahallul qiyam, seluruh ruang berdiri seolah menyambut Rasulullah dengan khidmat—dengan tubuh yang tegak dan hati yang merendah—sebagai tanda hormat, rindu, dan pengakuan atas cahaya teladan yang terus hidup di tengah umat.
Senandung selawat menyebar ke seluruh ruang, memantul di dinding-dinding kecil. Emak-emak Hadrah Banjari Assalam tidak sekadar tampil—mereka menghadirkan diri sepenuhnya, mengisi ruang dengan kehadiran, pengalaman, dan ingatan kolektif yang telah lama dirawat dalam tradisi.
Usai hadrah, Nayla Authar dan Kayla Nareswari kembali mengambil alih peran sebagai pembawa acara. Keduanya berdiri sejenak, lalu memilih kembali duduk lesehan bersama audiens. Tidak ada jarak mencolok antara pemandu dan peserta. Semua berada pada posisi yang sama, sejajar, dan saling menyimak.
Sebagai siswi dan mahasiswa, Kayla dan Nayla memandu rangkaian acara panjang dengan ketenangan yang terjaga. Dalam posisi lesehan yang cair, tantangan justru terasa lebih besar: suara harus tetap jelas, alur acara harus terpelihara, dan perhatian audiens harus dirawat tanpa bantuan formalitas panggung. Namun Nayla dan Kayla mampu mengelola semua itu dengan baik. Mereka berbicara dengan artikulasi yang bersih, pilihan kata yang tepat, serta intonasi yang menyesuaikan suasana. Mereka tahu kapan harus berdiri, kapan kembali duduk, dan kapan memberi jeda agar ruang tetap bernapas dan tidak sesak oleh kata-kata.
Interaksi Nayla dan Kayla dengan emak-emak Hadrah Banjari Assalam terasa alami sejak awal. Tidak ada bahasa yang meninggi, tidak pula sikap yang merendah secara berlebihan. Dalam posisi duduk bersama di lantai, percakapan tumbuh secara setara dan saling menghormati.
Budaya lesehan itu membantu menjembatani jarak generasi. Dalam ruang yang sama rendah itu, Gen-Z dan emak-emak saling menatap tanpa rasa sungkan. Nayla dan Kayla menunjukkan bahwa kepemimpinan tidak selalu harus berdiri lebih tinggi—kadang justru menjadi efektif ketika seseorang memilih duduk sejajar, mendengar, dan merespons dengan tenang.
Dalam ruang lesehan yang telah lebih dulu dipenuhi irama selawat dan keheningan yang khidmat, orasi santri yang disampaikan oleh sastrawan Jamal D. Rahman hadir sebagai penanda penting arah perbincangan malam itu.
Orasi tersebut menjadi refleksi mendalam tentang bagaimana tradisi pesantren, khususnya konsep sanad, berdialektika dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan sastra santri di era modern dan digital. Jamal tidak memosisikan sanad semata sebagai rantai formal guru–murid, melainkan sebagai kesadaran epistemologis, ontologis, dan etis yang menuntut tanggung jawab moral atas setiap pengetahuan dan karya kreatif yang dihasilkan.
Dengan gaya oratoris yang puitis sekaligus argumentatif, ia menunjukkan bahwa pesantren adalah tradisi hidup yang terus bergerak, mampu bertransformasi tanpa kehilangan akar spiritual dan adab keilmuannya. Sanad, dalam pandangan Jamal, menjadi kompas batin agar kebebasan berpikir dan imajinasi sastra tidak tercerabut dari asal-usulnya, sekaligus menjadi kritik halus atas klaim orisinalitas kosong dan pragmatisme akademik, serta seruan agar santri memaknai “bersanad” sebagai sikap hidup yang sadar asal-usul, jujur dalam metode, dan bertanggung jawab atas makna yang disebarkan.
Setelah orasi budaya santri tersebut, ruang lesehan kembali berdenyut oleh percakapan yang lebih dialogis. Acara kemudian dilanjutkan dengan diskusi buku dan sesi testimoni yang tetap berlangsung sebagaimana mestinya.
Hadir sebagai narasumber dalam diskusi buku ini adalah Prof. Dr. Ahmad Zainul Hamdi, M.Ag., Prof. Dr. Rumadi Ahmad, M.A., Dr. Ngatawi Al-Zastrow, Dr. Neng Dara Affiah, dan Dr. Ahmad Suaedy. Tokoh-tokoh dan narasumber tersebut hadir memberi isi, konteks, serta refleksi yang berlapis, baik dari sudut pandang akademik, sosial, kultural, maupun pengalaman praksis di ruang publik dan masyarakat sipil.
Namun suasana lesehan membuat semua percakapan terasa lebih dekat dan lebih manusiawi. Para narasumber tidak hanya menyampaikan gagasan konseptual, tetapi juga membuka ruang dialog yang hidup, memungkinkan pertukaran pandangan berlangsung tanpa sekat formal, tanpa podium tinggi, dan tanpa jarak yang dingin dan kaku, sehingga diskusi berkembang sebagai percakapan bersama yang saling menyimak dan saling belajar.
Seusai orasi santri, Nayla dan Kayla kembali tampil memanggil pembaca puisi. Sarah Monica, seorang penyair dan peneliti budaya, maju membacakan puisi karya Nizar Qabbani. Sarah, yang kumpulan puisinya Bangkitnya Kemurungan mendapat penghargaan dari Badan Bahasa, malam itu tampil dengan suara lirih, seakan mewakili jerit pilu Palestina yang disuarakan oleh penyair kenamaan tersebut.
Selain Sarah, penyair Willy Ana, Shantined, dan Gilang Eka Sulaeman turut tampil membaca puisi. Ketiganya menambah lapisan suasana, membuat acara Tumpengan dan Diskusi Buku dalam rangka “Menyambut Tujuh Tahun JDS” terasa semakin hidup dan berdenyut.
Sepanjang acara, hujan yang sejak sore dikhawatirkan tak juga turun. Hingga tepat pukul 21.48 WIB, menjelang doa tumpengan dilantunkan, hujan deras tiba-tiba jatuh dari langit. Ajaib, sekalipun hujan turun dengan lebat, tidak ada yang berdiri terburu-buru. Semua tetap duduk lesehan, merapat dalam satu titik. Tikar menjadi ruang bersama. Tumpeng diletakkan di tengah. Doa tetap dibacakan, bersahut dengan suara hujan yang kini menjadi latar alami.
Dalam posisi duduk di lantai, makan tumpeng terasa lebih intim. Tangan saling berbagi. Piring berpindah dari satu orang ke orang lain. Tawa-tawa kecil muncul di sela hujan yang semakin rapat. Hujan tidak membubarkan acara—ia justru mengunci kehangatan yang telah terbangun sejak awal.
Malam itu, perayaan ditutup bukan dengan kemegahan, melainkan dengan kebersamaan. Budaya lesehan menjadi lebih dari sekadar cara duduk. Ia menjelma sebagai etika sosial: merendahkan tubuh untuk meninggikan perjumpaan.
Di ruang kecil bengkel kerja JDS, Gen-Z dan emak-emak bekerja bersama. Yang muda mengelola ruang dengan kecakapan dan keluwesan, yang tua menjaga ritme tradisi dengan kesetiaan dan ketekunan. Di tengah cuaca yang tak menentu, lesehan membuat semua terasa dekat, setara, dan hangat.
Budaya duduk lesehan, bagi sebagian generasi muda, barangkali terdengar sebagai kebiasaan yang mulai terpinggirkan—sesuatu yang tak lagi akrab di tengah ruang-ruang modern yang serba kursi dan jarak. Namun bagi generasi-generasi sebelumnya, lesehan justru menjadi bahasa kebudayaan yang paling jujur tentang kebersamaan. Ia meniadakan hierarki, merapatkan tubuh-tubuh dalam satu bidang yang sama: duduk sama rendah, berdiri sama tinggi. Dalam lesehan, percakapan tak mencari panggung, dan keakraban tumbuh tanpa perlu diumumkan.
