Suasana mendadak hening. Angin gurun seolah berhenti berembus seketika. Hubaysh menatap pemuda di hadapannya, air mata menggenang di pelupuk matanya.
”Ya…” jawab Hubaysh dengan suara bergetar namun tegas. “Sungguh, demi dirimu, aku rela menyerahkan segalanya.”

Namun, romantisme singkat itu tak mengetuk hati para prajurit yang terbiasa bersikap keras. Tanpa kompromi dan tanpa basa-basi, pemuda itu diseret ke depan. Sebelum ia sempat mengucap kata perpisahan lagi, pedang terayun cepat. Tubuhnya ambruk ke tanah.
Hubaysh membatu. Dunianya runtuh dalam hitungan detik.
Gadis itu melangkah mendekati jasad pemuda yang baru saja mempertaruhkan nyawa demi melihat wajahnya. Ia berdiri tepat di atas tubuh pemuda itu, menatap sosok yang kini tak bernyawa.
Hubaysh menarik napas panjang—sebuah helaan napas yang begitu berat dan tajam, sarat akan rasa sakit yang tak sanggup ditampung dadanya. Satu kali… dua kali helaan napas… lalu tubuhnya meluruh dan runtuh di atas jasad kekasihnya. Hubaysh mengembuskan napas terakhirnya di sana, mati seketika bersama cintanya.
Beberapa hari kemudian, pasukan itu tiba di Madinah dan menghadap Nabi Muhammad ﷺ untuk melaporkan hasil tugas mereka. Mereka menceritakan seluruh kejadian, termasuk kisah tragis pemuda tawanan dan gadis tersebut; menegaskan bahwa mereka telah menjalankan tugas dengan ketat.
Namun, tidak ada nada pujian dari Rasulullah ﷺ.
Wajah beliau berubah muram. Tatapannya menembus para prajurit dengan kekecewaan yang mendalam.
Dengan nada suara yang bergetar menahan kesedihan dan teguran keras, beliau bersabda: ”Tidakkah ada satu pun laki-laki di antara kalian yang memiliki rasa iba?!”
Kisah ini dimuat oleh Ibnu Hazm al-Andalusi dalam mahakaryanya Tawq al-Hamamah (Kalung Merpati), yang memetik riwayat hadis dari Abdullah bin Abbas r.a. (dikeluarkan oleh An-Nasa’i dalam Al-Sunan al-Kubra no. 8663).
أَمَا كَانَ فِيكُمْ رَجُلٌ رَحِيمٌ؟!
عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَبَّاسٍ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا -؛ أَنَّ النَّبِيَّ ﷺ بَعَثَ سَرِيَّةً. قَالَ:
فَغَنِمُوا، وَفِيهِمْ رَجُلٌ، فَقَالَ لَهُمْ: إِنِّي لَسْتُ مِنْهُمْ، عَّشِقْتُ امْرَأَةً، فَلَحِقْتُهَا، فَدَعُونِي أَنْظُرْ إِلَيْهَا نَظْرَةً؛ ثُمَّ اصْنَعُوا بِي مَا بَدَا لَكُمْ. قَالَ: فَإِذَا امْرَأَةٌ طَوِيلَةٌ أَدْمَاءُ. فَقَالَ لَهَا: اسْلَمِي حُبَيْشُ؛ قَبْلَ نَفَادِ الْعَيْشِ!
