Ketika Saudi Melepas Bayang-bayang Wahabi

Pada prosesnya Wahabi juga menjadi sebuah gerakan. Gerakan untuk menumpas habis praktik-praktik keagamaan yang dianggap menyimpang dari ajaran Islam (yang murni, puritan), yang sering disebut sebagai bidah, syirik, dan khurafat. Tradisi dan praktik-praktik keagamaan seperti tasawuf dan tawasul, misalnya, dianggap merusak akidah dan mengotori Islam. Kaum Wahabi juga sangat membenci intelektualisme, lebih-lebih di bidang keagamaan.

Di bawah naungan Kerajaan Arab Saudi, kaum Wahabi mengoperasikan gerakan apa yang disebutnya sebagai reformasi atau permurnian Islam. Bagi Kerajaan Arab Saudi sendiri, gerakan keagamaan Wahabi yang ultra-konservatif ini dijadikan “ideologi” resmi negara karena dengan sendirinya bisa dimanfaatkan sebagai modal akumulatif penyokong kekuasaan. Sebab, tanpa dukungan dan justifikasi keagamaan dari Wahabi, belum tentu para penguasa Kerajaan Arab Saudi bisa melanggengkan kekuasaan.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Minyak dan Wahabi

Beruntung, tak lama setelah Kerajaan Arab Saudi berdiri, pada 1938 di sana ditemukan harta karun berupa sumber minyak bumi. Dengan demikian, selain memperoleh sokongan dari kaum Wahabi, Arab Saudi memiliki modal yang sangat besar untuk memperkuat kekuasaan. Tentu saja, sumber minyak bumi itu akhirnya dikelola keluarga kerajaan. Pada mulanya, hak pengelolaan minyak diserahkan kepada Standard Oil Company, perusahaan minyak berbasis di California, Amerika Serikat. Namun, sejak 1980-an, hak pengelolaannya diambil alih keluarga kerajaan melalui perusahaan patungan bernama Arabian American Oil Company atau Aramco.

Dengan cadangan minyak yang mencapai 260,1 miliar barel, Arab Saudi akhirnya menjadi negara produsen dan pengekspor minyak terbesar di dunia. Dalam sekejap, Arab Saudi menjadi negara yang kaya raya berkat minyak dengan sebutan negeri petro dolar. Selama bertahun-tahun, 90 persen kekayaan Arab Saudi bersumber dari minyak bumi itu.

Sayangnya, minyak bumi bukan masa depan. Bahan bakar fosil itu bukan tanpa batas. Cadangannya akan terus menipis untuk kemudian habis, dan tak bisa diperbarui. Pada saatnya, Arab Saudi akan kehabisan sumber daya minyak bumi itu. Apa yang harus dilakukan jika cadangan minyak bumi habis, sementara selama bertahun-tahun, 90 persen anggaran Kerajaan Arab Saudi itu bersumber darinya?

Rupanya, pemegang mandat kekuasaan yang baru, Putra Mahkota Arab Saudi Pangeran Mohammed bin Salman, menyadari akan hal itu. Arab Saudi tak boleh dan memang tak bisa lagi hanya bergantung pada minyak bumi. Jika tak melakukan perubahan sementara cadangan minyak bumi habis, sangat mungkin Arab Saudi akan jatuh menjadi negara miskin. Dan demi perubahan itulah, pada 2016 Pangeran Mohammed bin Salman mencanangkan apa yang disebut Visi Saudi 2030.

Melalui Visi Saudi 2030 itu, Arab Saudi akan melakukan diversifikasi ekonomi, dan negara itu akan dijadikan sebagai pusat investasi dan bisnis global. Di dalamnya meliputi pengembangan sektor layanan umum seperti kesehatan, pendidikan, infrastruktur, serta industri rekreasi dan pariwisata. Pendek kata, Arab Saudi akan berubah menjadi seperti negara-negara maju dan modern.

Tinggalkan Balasan