Ketika Setan Dibelenggu

Melatih Sayap di Langit yang Bersih

Terbelenggunya setan adalah sebuah “fasilitas” dari Tuhan agar manusia bisa berlatih terbang tanpa gangguan badai. Ramadan menyediakan laboratorium spiritual yang murni. Tanpa provokasi setan, kita diberikan kesempatan untuk melihat seberapa kuat otot keimanan kita yang sebenarnya.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Puasa bukan hanya tentang menahan lapar yang mengosongkan perut, tapi tentang mengosongkan ruang hati dari kebisingan duniawi. Dalam rasa lapar yang puitis itu, ada kesadaran bahwa tubuh ini hanyalah bejana, dan isinya adalah ruh yang merindukan cahaya.

Dengan “absennya” setan, interaksi kita dengan Al-Qur’an menjadi lebih intim, sujud kita menjadi lebih lama, dan air mata tobat kita jatuh lebih jujur. Kita sedang belajar menjadi manusia yang utuh, yang berbuat baik bukan karena tidak ada godaan, tapi karena memang itulah fitrah kita yang paling asli.

Kemenangan yang Sesungguhnya

Namun, kita harus waspada. Penjara bagi setan itu memiliki pintu yang akan terbuka kembali saat fajar Idul Fitri menyapa. Ramadan adalah masa inkubasi. Jika kita hanya menjadi baik karena setan sedang “cuti”, maka kebaikan itu hanyalah dekorasi musiman.

Tinggalkan Balasan