KH Asyhari Marzuqi: Dari Pesantren Tradisional ke Panggung Intelektual

Nek kowe nguasai kitab lan tafsir, mongko Al-Qurane arep melu. Tapi, nek ngapalna Al-Quran, durung tentu kitab lan tafsire mbok kuasai” (Jika kamu menguasai kitab dan tafsir, maka Al-Quran akan serta merta ikut. Tapi, jika hanya menghafalkan Al-Quran, belum tentu kitab dan tafsirnya kamu mampu menguasainya).

Asyhari muda dikenal sebagai santri yang pendiam dan tidak banyak tingkah. Di Krapyak, ia lebih intens dan mendalami kitab kuning. Melalui tes dari KH Ali Ma’shum, ia menempuh pendidikan tingkat ibtidaiyah hanya dalam waktu 2 tahun, yang seharusnya ditempuh 4 tahun. Begitu juga dengan tingkat tsanawiyah dan aliyah, mampu ditempuhnya hanya dalam waktu masing masing 2 tahun saja atas rekomendasi KH Ali Ma’shum.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Asyhari Marzuqi menyelesaikan pendidikan tsanawiyah tahun 1957, dan selesai madrasah aliyah tahun 1961. Ketika masuk tingkat aliyah, Asyhari muda diminta untuk mengajar adik-adik kelasnya. Bahkan dipercaya sebagai kepala madrasah diniyah pertama ketika pesantren mendirikan Madrasah Diniyah sekitar tahun 1957.

Tahun 1965, Asyhari menjadi mahasiswa jurusan Tafsir Hadis di Fakultas Syariah di IAIN Sunan Kalijaga. Bagi kalangan pesantren kala itu, masuk ke perguruan tinggi seperti IAIN adalah sebuah langkah berani, sebab masih banyak sementara ulama yang mengharamkan santri belajar di sekolahan yang non-pesantren.

Langkah berani ini tidak lepas dari peran KH Ali Ma’shum yang memacu santrinya untuk masuk ke perguruan tinggi. Ketika itu, KH Ali Ma’shum sendiri adalah dosen di IAIN Sunan Kalijaga. Tahun 1968, ketika memasuki semester tujuh, Profesor Hasbi Ash Shiddiqi mengangkatnya menjadi asisten dosen untuk mengajar mahasiswa pada mata kuliah Bahasa Arab serta Nahu dan Saraf. Dua tahun kemudian, Asyhari berangkat ke Baghdad untuk melanjutkan pendidikan S2 dan kembali ke tanah air pada November 1985.

Pesantren Nurul Ummah

Tinggalkan Balasan