KIAI YANG TAK PERNAH PUNYA SINGGASANA
Ia duduk di tikar
bukan di kursi kekuasaan.
Tapi lensa menuduhnya raja.
Padahal yang ia simpan hanyalah
kartu nama santri-santrinya—
satu jadi guru, satu jadi petani,
satu jadi ayah yang berdoa sebelum makan.

Mungkin mereka lupa:
kekuasaan sejati tidak beralamat,
dan keikhlasan tak butuh izin tayang.
SETELAH DUNIA MENONTON PESANTREN
Setelah semua kamera pulang
yang tersisa hanya tikar, sajadah, dan debu
Azan kembali terdengar biasa
Tak ada sorot lampu
tak ada tuduhan
hanya suara kitab yang dibaca pelan
seperti seseorang menata hatinya sendiri.
Di luar, dunia berdebat tentang feodalisme.
Di dalam, santri menulis:
aku belajar hormat bukan karena takut
tapi karena ilmu terlalu suci untuk ditatap dari atas.
