Di ANTAR SUJUD DAN TUDINGAN
Seseorang menuduh:
“mengapa kalian menunduk terlalu lama?”
Kami jawab pelan:
“karena dunia terlalu tinggi suaranya.”

Kamera menyorot lutut kami
bukan hati kami.
Mereka pikir tunduk itu kalah.
Padahal hanya di posisi itu
kami bisa melihat langit tanpa sombong.
DOKUMENTER TENTANG KETIDAKTAHUAN
Ada kru datang membawa naskah
tapi lupa membawa niat.
Mereka ingin memfilmkan gelap
padahal lampu di hati kami tak pernah padam.
Mereka menyusun potongan hidup
seperti teka-teki yang sudah punya kesimpulan:
kiai—penguasa,
santri—korban.
Sederhana dan salah
seperti anak kecil yang menggambar masjid
tanpa pernah mendengar azan.
