Kisah Sepotong Bibir

Sepotong bibir adalah lambang bagi perempuan. Katamu suatu kali. Sebab itu, akhirnya aku berencana memoles bibir ini dengan gincu paling langka di dunia. Hingga kau dapat terperangkap dan tidak bisa lepas dariku. Kini, kegemaran baruku hanya ada dua: selain ranjang, juga tempat rias.

Hanya di siang hari, kau akan tampak lebih menyenangkan aku pandang. Siang hari bagiku adalah pelengkap dari keping-keping kesedihan. Sebab malamnya, aku hanya rubah betina yang meringkik dalam pelukan orang-orang. Tetapi tak mengapa. Sungguh tak mengapa. Sebab mencintaimu sepanjang siang sudah cukup melegakan.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

***

Sebuah siang jatuh dari bibir bus jurusan balai kota dan singgah di pinggir jalan Parangtritis. Sedari tadi, bus tersebut merayap, lagu dangdut dari sebuah kumpulan puisi seorang penyair berdendang menguasai ruang. Sedikit pengap memang, sebab kota ini, mungkin juga kota-kota lain, diserang hawa panas. Lelehan matahari jatuh, gerutu orang-orang. Dan aku, sewaktu itu, hanya bersandar dekat jendela lalu mengingat banyak hal.

Sebagai perempuan tanggung yang tersekap belasan tahun di sebuah tempat yang biasa orang-orang normal sebut rumah, merasa terkesima. Betapa jejeran gedung menjulang-rendah, sekumpulan orang bercakap, anak-anak bersepeda pulang sekolah, penjaja es buah, dan beberapa hal yang tak pernah aku lihat selain dari layar kaca televisi, nampak melintas.

Dengan sedikit gugup aku turun di jalan ini, mengekor seorang nenek yang membawa bakul kecil berisi ikan-ikan segar. Aku tebak ia tiba dari pasar entah di mana. Sungguh, aku terharu sekaligus bimbang. Ini kali pertama aku menjejalkan diri di luar rumah. Lepas dari kenyataan buruk dan menyedihkan yang berulang-kali menimpa.

Aku terharu. Sebetulnya aku tidak ingin mengingat, tetapi aku tahu, jika tidak aku ceritakan pengalaman buruk ini, pembaca akan kebingungan dan merasa cerita pendek ini membosankan. Maka setidaknya, aku memaksa –tentu setelah berdebat lama dengan si pengarang cerita, untuk menceritakan hal menyedihkan dari hidupku.

***

“Sebaiknya, kau diam. Dan berlatih menikmati. Permainan ini tidak buruk, bukan? Setidaknya kau merasa nyaman,” ujar bapak. Dia baru saja membuka pintu lalu menyeret kursi kecil dekat jendela. Matanya, nampak gelap. Dia menyulut rokok pertama-kedua-ketiga sambil sesekali memandangiku. Sedetik kemudian menoleh ke jendela dengan tatapan kosong. Lalu bergumam lagi, “Seperti yang ibumu lakukan dulu, hanya seperti itu.”

Jadi aku berupaya diam. Ia kini sumringah tersenyum. Lalu mengangguk ganjil. Segera setelah itu, seperti biasa, aku lucuti sendiri pakaian satu-satu hingga hanya menyisa kutang dan celana dalam. Pembaca dapat menebak apa yang terjadi setelahnya. Kejadian menjijikkan dan tak elok jika dibaca khalayak. Tetapi tentu, setelah sekian jam dan bapak keluar ruangan, aku hanya merangkul lutut. Termangu dan menatap kosong.

Ruangan ini, dulu adalah ruangan paling menyenangkan dalam rumah. Biasanya, di pojok samping dekat jendela, ada kursi empuk tempat ibu biasa merajut. Sungguh, seperti orang miskin lainnya, ibu menekuni apa yang dapat ia lakukan dengan telaten. Juga dengan harapan sederhana: segera selesai, dan dapat dijual.

“Jika rajutan ini laku, kau ingin apa Asti?” Sambil tetap merajut dan sesekali membetulkan posisi kacamata, Ibu berucap, “Apakah kau ingin sesuatu? Bagaimana jika kita nanti ke pasar Beringharjo dan membeli dua potong sayap ayam?” Ia berhenti merajut, lalu menoleh padaku.

Sedari tadi aku berjalan jinjit agar kedatanganku tak diketahui ibu. Sebab ini hampir petang. Dan aku selalu khawatir, jika pulang petang akan dimarahi seperti waktu bocah dulu. Tapi, bukankah kau masih bocah? tegur hatiku. Tapi pikiranku menolak, sebab aku sudah memiliki pacar. Seketika, pipiku merona. Lalu yang terucap dari bibirku hanya, “Duh, padahal baru ketemu, Sukab kasihku, kenapa sudah merindukanmu lagi?”

Tiba-tiba ibu mengulang pertanyaan, “Kau kenapa Asti?” dengan dahi mengkerut. Aku sedikit tersentak lalu cengengesan. Lalu dengan riang menghampiri ibu dan bergelayut di pahanya.

Ibu dengan tenang membelai rambutku. Sambil mendongak ke arah ibu, aku ingin membicarakan Sukab kepada ibu, tapi urung. Dan ibu berdesis kecil kemudian bergumam. Sebuah gumaman yang lekat aku kenang, hingga sekarang.

Tinggalkan Balasan