LAKON MATI SEKAWAN PAPAT

Malang, 3 Februari 2026.

PENGHUNI RUMAH

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

(Kemarin, kuintip rumah tetangga
Meliuk-liuk. Sekeluarga hampir mengungsi)

Udara berangin, burung bersarang
Pohon terayun, telur terkoyak.
Semut merayap hendak berlindung
Mulut pintu nganga merentang

(Tepat di pekarangan,
suara-suara bersahut ramai
Hidup amat makmur)

Jemari air lentik gemulai
Ikan-ikan lompat menggirang
“sarapan, sarapan dimulai!”
Moncong mulutnya berluapan
Di permukaan

Jantan si ayam berkokok
Betina si jelita mengeram
Lain jantan lain betina
Lain ayam cakar mengais
Mencari cacing-cacing berkeliaran
Lalu memuntah tai ke muka tanah.

Cicak-cicak mencerca ayam
Aduh nasib jatuh terjungkal
Wallahu a’lam.

Tikus bercicit berebut ikan asin
Dari dapur belakang
Kucing datang, memangsa semua-mua; semaunya
Laba-laba atap rumah melongo
semoga tak dimangsa juga”

Malang, 3 Februari 2026.

KUBURAN PENSIL*

Ibu menggali kuburku
dengan pensil
yang kemarin
belum sempat dibeli
memakamkannya bersama
jasadku yang belum genap
tujuh hari
ia membeli pensil
hasil memungut dedaun pohon cengkih—
tempatku gantung diri.
Dalam kubur,
pensil mengajariku
menulis kata ibu
yang tak bisa kuucapkan kembali
di balik nisan makamku yang sendu
andai aku bisa hidup lagi
kan kubeli pensil-pensil dengan jerih payahku
lalu memeluk ibu

* Puisi ini terinspirasi dari kisah anak kelas 4 SD di NTT yang bunuh diri karena sang ibu mengalami kesulitan perekonomian sehingga tak bisa membelikannya pensil.

Tinggalkan Balasan