“Ke mana saja selama ini?”
“Menghitung mayat hidup yang belum mati,
berkeliaran menggaruk bumi.”
Kami bertiga bermuka-muka
terangguk-angguk
menggeleng-geleng kepala

(Babak ketiga, mereka saling memeluk
lalu masuk ke liangnya sendiri-sendiri)
Babak belum selesai, “ternyata masih ada lagi,
tapi tidak dimakamkan di lakon ini!”
Malang, 1-2 Februari 2026.
SRI DAN SATI
I
Punggung malam dipenuhi kunang-kunang
menari-nari di pelataran
Beradu ublik dan strongking
Mata terjantang telanjang
Sri bersandar pada kayu-kayu tua
Dan anyaman bambu purba
sambil melagu tembang “asmarandhana”
Mengerik jangkrik menyahut
Beralun mengitari sanggul
Memeluk kain kebaya
Dan pipi sembabnya yang sani
II
Rintik jatuh di jantung malam
Roda, rem tua,
seperti mesin kurang oli
Menahan beban
yang bergelantungan; tanpa nyawa
Konon, mereka dihabisi narasi
Yang berdiam
dalam mulut-mulut pistol
“Dor!” sekali pakai
Masuk karung penghabisan
III
Sri meriba tembang
Pada kekasihnya
yang t’lah lama hilang
ditelan operasi malam.
“Kangmas tak pernah pulang
Biar aku terus menembang.”
Lalu Sri bertemu Sati,
Dalam mimpi yang tak baka
Ia berada di surga
Tempat orang-orang terzalimi
berada.
