Sekitar tahun 1949, di suatu malam terjadi perdebatan alot di antara Tuan Guru Abdul Kadir dengan guru-guru sepuh di Nurul Iman. Ada yang mengatakan karena perbedaan politik, ada pula yang mengatakan soal kebijakan. Tidak ada informasi yang valid soal perdebatan mereka pada malam itu. Yang pasti esoknya Tuan Guru Abdul Kadir sudah tidak lagi mengajar di Nurul Iman. Tuan Guru Saman Muhyi segera diangkat menjadi penggantinya.
Karena Tuan Guru Abdul Kadir merupakan ulama yang disegani dan begitu aktif, ia tetap mengajar murid-murid yang ingin belajar kepadanya. Langgar Putih sekali lagi menjalankan fungsi lamanya. Beberapa guru muda di Nurul Iman tetap setia kepadanya dan mengikuti pengajiannya.

Tidak butuh waktu lama hingga pengajiannya di Langgar Putih menjadi penuh. Ia kemudian membagi jam pelajaran siang dan sore. Namun, karena murid di Langgar Putih semakin membeludak, pada 1951 ia membangun madrasahnya sendiri. Madrasah tersebut berdiri berdasarkan swadaya dirinya dan masyarakat yang mendukungnya.
Seorang saksi bercerita waktu itu masyarakat sangat bersemangat mendirikan madrasah Tuan Guru Abdul Kadir. Semua golongan terlibat. Dimulai dari para murid, orang tua, anak-anak hingga perempuan bahu membahu mengumpulkan pasir dari Sungai Batanghari. Tuan Guru Abdul Kadir menginginkan madrasah yang kokoh, yang dibangun dari semen seperti bangunan sekolah Belanda. Sekolah tersebut baru bisa dipakai pada tahun 1953 dengan nama As’ad di Olak Kemang, Seberang Kota Jambi.
Dengan berdirinya Madrasah As’ad, selesailah cerita Langgar Putih sebagai pusat pendidikan Islam di Jambi. Langgar Putih tetap digunakan sebagai sarana pendidikan setelahnya. Hanya, perannya tidak lagi signifikan sebagaimana pada masa dulu.
Kalau pembaca yang budiman hendak berkunjung ke Langgar Putih, pergilah ke Seberang Kota Jambi, tepatnya di Kampung Tengah. Lalu, tanyakan kepada penduduk sekitar di mana letak Langgar Putih. Insyaallah akan dibawa ke sebuah bangunan kecil dua lantai, panggung, khas bangungan masyarakat Seberang Kota Jambi, atapnya berbentuk tumpang layaknya bangunan masjid kuno khas Nusantara, keseluruhan gedung dicat putih dengan atap genteng berwarna hijau. Demikianlah bentuk langgar yang telah menjadi saksi perkembangan pendidikan Islam di Jambi.
