LDR yang Bikin Ambyar

“Bagaimana lagi, Dik. Kebutuhan kita masih banyak,” aku menjawab dengan berat hati. “Lima bulan lagi anak kita juga akan segera lahir. Sedangkan kalau tetap di sini tidak dapat uang. Nggak ada pemasukan,” sahutku mencoba realistis.
“Kalau itu sudah menjadi tekadmu aku cuma bisa mendoakan Mas. Sambil nunggu Mas pulang saya masih akan tetap aktif di yayasan. Boleh, kan? Demi syiar Islam Mas?”

Aku mengiyakan permintaannya. Dia tersenyum bahagia.
“Mas,” panggilnya beberapa saat kemudian.
“Iya. Ada apa lagi?” aku bertanya penuh kelembutan.
“Maaf ya, Mas, mau minta izin lagi. Sekitar satu jam lagi aku harus keluar rumah, ada rapat mendadak di kantor. Mas selesaikan kerjaannya dulu ya, nanti kalau sudah selesai aku akan segera pulang. Pasti boleh, kan?” pintanya memelas. Dia kembali berkutat dengan HP-nya lagi setelah aku memberinya izin untuk keluar rumah.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Aku membiarkan dia pergi. Sebagai mantan aktifis kampus naluri berorganisasinya masih terlihat utuh seperti dulu. Membara penuh gelora. Aku yang tidak tahu apa-apa tidak ingin mengekangnya. Dalam hal agama, dia tidak perlu diragukan lagi. Aku tak perlu khawatir dia akan menyeleweng. Apalagi ini memang sudah menjadi rutinitasnya sehari-hari. Menjelang maghrib dia biasanya sudah pulang. Kami lantas terlibat perbincangan mengenai masa depan. Dan tekadku semakin bulat setelah istriku tidak keberatan aku tinggal pergi ke Kalimantan. Beberapa hal terkait keberangkatanku ke pulau seberang tak luput juga kami bahas. Aku merasa sangat bersyukur memiliki istri pengertian dan cekatan dalam melihat keadaan seperti dia.

Waktu seperti busur panah yang terus meluncur, tak pernah mengenal kata berhenti.

Minggu berikutnya aku sudah berada di Kalimantan, berjibaku dengan truk dan batubara dan jalan berkelok-kelok penuh debu. Rute perjalanan kami membawa batu bara melewati hutan, sebenarnya perjalanan yang ditempuh tidak terlalu jauh namun sehari bisa empat sampai lima kali bahkan lebih, hal ini membuat tubuhku terasa sangat lelah. Mataku pun ngantuk sekali. Selain itu, mengendarai truk melewati jalan yang tidak selalu mulus dan dalam keadaan ngantuk bisa berakibat fatal. Kalau sudah begini aku biasanya berhenti untuk sekadar ngopi. Kali ini aku dan kedua temanku berhenti di sebuah warkop tepi jalan yang terbilang berada di wilayah permukiman ramai.
“Rokokmu masih, Jul?” tanya Jarjid pada Juli. Ketika ngopi kedua temanku itu tak pernah pisah dengan rokok. Kata mereka ngopi tanpa ngrokok bagaikan makan nasi tanpa lauk. Ambyar sekali.

Juli mengeluarkan sebungkus rokok dari sakunya tanpa mengeluarkan kata-kata sebagai jawaban. Sebentar kemudian kemelut asap membubung di antara tawa dan gosip khas warung kopi.

Tinggalkan Balasan