Pada akhirnya, persoalannya bukan hanya tentang arti sebuah ayat. Tetapi juga tentang apa yang terjadi ketika sebuah pemahaman dibawa ke dalam kehidupan. Ketika sebuah tafsir digunakan untuk membenarkan kekerasan, persoalannya tidak lagi berhenti di ruang kajian. Ia juga masuk ke dalam rumah dan menyentuh kehidupan manusia.
Pada akhirnya, persoalan dalam membaca ayat-ayat tentang gender bukan hanya terletak pada apa yang ditulis, tetapi juga pada bagaimana kita memahaminya.

Ayat yang dibaca secara utuh dapat memperlihatkan pesan yang jauh lebih kompleks daripada sekadar satu potongan makna yang kita ambil untuk membenarkan suatu tindakan.
Karena itu, membaca Al-Qur’an membutuhkan kehati-hatian, tidak tergesa-gesa mengambil kesimpulan, tidak memisahkan satu ayat dari konteksnya, dan tidak menjadikan satu potongan teks sebagai alasan untuk membenarkan kekerasan.
Sebab ketika ayat dibaca dengan tergesa-gesa, yang lahir bukan hanya pemahaman yang tidak utuh, tetapi juga bisa menjadi pembenaran atas tindakan yang sebenarnya tidak sesederhana apa yang kita baca.
