Lelaki Pemetik Buah Kebohongan

“Kalau kalian masih ribut, buaya di dahan lengkeng itu akan turun ke beranda ini,” bentak Suma dengan nada kasar.

Anak-anak malah tertawa mendengar ucapan Suma, Andre pun tak lagi takut. Ia juga tersenyum dan mulai tahu bahwa apa yang dikatakan ayahnya hanya bualan belaka.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

“Saya tadi ngecek pohon itu tidak ada buayanya kok, Pa,” Jawab Andre polos.

“Ya, mana ada buaya merayap di pohon lengkeng. Hanya orang tidak waras yang bilang begitu,” sambung anak berambut kriting di samping Andre.

“Hahaha.” Semuanya tertawa.

Suma menutup pintu dengan keras.

Berminggu-minggu Andre mengajak teman-temannya bermain di rumahnya. Pada suatu waktu, mereka kembali bermusyawarah untuk memburu kupu-kupu kuning di lereng kebun siwalan. Suma menguping dari kamar sebelah, melalui lubang kunci.

Suma terperanjat mendengar kabar itu. Ia lalu mengambil lipatan kertas di bawah kasur, membaca beberapa kalimat yang telah ia oret di kertas itu, dan memilih kalimat bohong yang berupa janji, bukan yang menakut-nakuti.

#

“Andre!, jika kamu tidak keluar rumah, ayah akan membelikan sepeda bagus untukmu,” bujuk Suma santun, meski di hatinya ia sadar ucapan itu sekadar bohong belaka. Mendengar ucapan itu, Andre menoleh dan berlari mendekati Suma. Sepasang matanya terpaku menatap wajah ayahnya dengan pendar bola mata yang penuh selisik.

“Apa, Yah? Andre akan dibelikan sepeda?”

Suma mengangguk sembari mengedipkan mata.

“Horee!!” Andre girang, melompat-lompat, dan menyebut-nyebut kata “sepeda”.

“Tapi syaratnya harus kaupenuhi.”

“Siap, Yah. Andre tidak akan keluar rumah,” jawab Andre tegas sambil menjabat tangan ayahnya sebagai bentuk kesediaan. Yumi menguping dari pintu dapur. Sebentar ia mengintip ekspresi Andre yang begitu bahagia. Yumi mengelus dada, dan meneteskan air mata.

“Kau tidak tahu jika itu kebahagiaan bohong, Nak!” ucapnya lirih.

Sejak saat itu Andre hanya berdiam diri di rumah. Ia tidak keluar kecuali di pagi hari, sebatas untuk bersekolah TK bersama ibunya. Selain tidak bermain, ia juga melarang teman-temannya berkunjung ke rumahnya supaya ia tidak tergoda. Berhari-hari, berminggu-minggu ia bertarung melawan sepi, sambil membayangkan sepeda bagus dari tangan ayahnya akan segera ia terima dan akan ia pamerkan buat teman-temannya.

Setelah lebih sebulan, Andre mulai cemas, sebab sepeda yang dijanjikan ayahnya tak kunjung datang. Saat menanyakan hal itu kepada ayahnya, si ayah cuma tersenyum dan berkata, “Tenang, sebentar lagi pasti datang. Jangan khawatir”. Tapi Andre tetap khawatir, sebab sudah nyaris dua bulan tetap tak ada apa-apa.

Tinggalkan Balasan