Di sebuah ruangan yang jauh dari kamar Andre, Yumi datang menjewer daun telinga Suma.
“Aduh..duhh. Kenapa kamu menjewerku, Ma?” suara Suma agak merintih, kedua tangannya berusaha melepas tangan kanan istrinya yang menarik daun telinganya.

“Papa sadar, sepeda yang dijanjikan kepada Andre itu cuma bohong kan?”
“Iya. Kenapa?”
“Anak ditanami kebohongan, suatu saat juga pasti berbuah kebohongan, Pa.”
“Ini kebohongan demi kebaikan kan, Ma.”
“Yang namanya kebohongan yang tetap buruk, Pa,” suara Yumi dibuat agak meliuk dan panjang sambil ia melepas jeweran, meninggalkan suaminya dengan wajah masam.
#
Andre mengintip teman-temannya yang bermain dari celah jendela. Ada keriuhan yang baur dengan canda dan tawa. Ingin rasanya ia bergabung dengan mereka. Keinginan itu kadang membuat dada Andre terasa sakit, tapi sakit itu sedikit bisa lenyap apabila teringat sepeda yang dijanjikan ayahnya meski sampai saat itu belum ada.
Di kamar itu, Andre sudah lebih dua bulan menunggu sepeda yang dijanjikan ayahnya, membuat ia mengingat-ingat banyak ucapan yang dilontarkan sang ayah. Kata-kata ayahnya selalu berujung hampa dan sekadar bualan belaka. Ia masih ingat cerita buaya di dahan lengkeng, cerita bulan yang bisa berubah jadi siluman, cerita anak yang tubuhnya akan berubah jadi ular jika minta uang jajan setiap hari, cerita jin berkepala sapi yang suka datang pada anak yang tidak tidur siang. Andre terus mengingat itu sambil mendongak dan mengernyitkan dahi. Ia berkesimpulan; semua yang dikatakan ayahnya tak terbukti.
“Jangan-jangan ayah itu seorang pembohong?” pikirnya mulai menduga-duga.
Hingga tibalah suatu pagi, Andre minta izin kepada Suma untuk bermain. Jika diizinkan, ia berjanji akan membawa oleh-oleh sebungkus rokok buat ayahnya itu. Mendengar kata “rokok” Suma pun tergoda, ia sangat mengharapkan benda nikmat itu. Suma pun mengizinkan Andre bermain tanpa pertimbangan apa-apa selain rokok.
Andre girang. Ia bersorak dan bertepuk tangan, segera bergegas pergi, melompat-lompat di sepanjang jalan, menuju rumah temannya. Karena lama tidak bermain, ia balas dendam pada keadaan, waktu seharian ia gunakan untuk bermain, dan baru pulang ketika azan maghrib berkumandang.
Suma duduk berselonjor kaki di sebuah lincak yang ada di beranda rumahnya, mengharap Andre pulang membawa sebungkus rokok. Tangannya menggenggam korek dan bibirnya bergerak-gerak, tak sabar ingin mengisap rokok.
Saat Andre menginjakkan kaki di beranda, tak ada apa pun yang ia bawa. Suma menatap anaknya dengan heran.
“Mana rokok yang kaujanjikan?” tanya Suma keras.
“Mana sepeda yang ayah janjikan?” Andre balas bertanya.
Suma terdiam mematung. Petang itu, ia merasa telah memetik kebohongan yang sejak dulu ia tanam pada Andre.
