Lembide

Mengetahui anaknya bersiap hendak mendayung, mata sang ayah melotot. Tapi tubuhnya menggigil saat dari mulutnya terucap semacam peringatan, “Lembide!”

“Jangan, Ranto! Kabut putih makin tebal di atas air. Lembide sedang menenun jala,” kata Ama sambil memegangi tangan anaknya. Tapi Ranto justru menepis tangan ayahnya.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Yang ada dalam benaknya, inilah waktu terbaik untuk menjaring sebanyak mungkin ikan depik. Inilah saatnya membeli perhiasan beberapa gram emas untuk meminang Senye.

Itulah yang mendorong Ranto menurunkan perahunya ke danau. Seorang diri, di tengah gelap dan dingin yang menusuk tulang, ia mulai mendayung perlahan. Suara kecipak air terdengar khusyuk. Ranto mengarahkan biduknya ke arah kabut putih tebal yang menggantung rendah. Sebab, di bawah kabut tebal itulah ikan-ikan depik biasa berkumpul.

Prak!!! Dayung Ranto menembus permukaan air yang sehitam tinta. Ia langsung terdiam. Menggigil. Keheningan begitu mencekam, hingga detak jantungnya sendiri terdengar menyiksa telinga. Itulah saatnya. Dengan tangan yang menggigil, Ranto langsung menebar jala. Ia menunggu beberapa saat, membayangkan tumpukan ikan berwarna perak bersisik yang akan memenuhi lambung perahunya.

Tapi saat itulah tali jala di tangannya terentang mengencang. Perahu kecilnya bergoyang hebat.

“Dapat!” seru Ranto pelan, matanya berbinar.

Ia mulai menarik tali itu. Namun, beban di ujung sana terasa terlampau berat, seolah ia sedang menarik sebongkah batu raksasa dari dasar danau. Otot-otot lengannya menegang. Semakin tali itu ditarik, permukaan danau di sekeliling perahunya justru semakin tenang, terlalu tenang, hingga tak ada gelombang sedikitpun.

Lalu, bau itu datang. Bau amis yang memualkan, berpadu dengan aroma lumpur busuk dan lumut tua. Dari balik kegelapan air, muncul bayangan tipis, seperti helai-helai kain merah tua yang melayang naik. Bukan, itu bukan kain. Itu menyerupai jaring kulit lembab berserat, melebar seperti tikar anyaman raksasa yang merayap tepat di bawah permukaan perahu Ranto.

Tubuh Ranto membeku. Bau busuk itu kini menusuk hidungnya.

Tinggalkan Balasan