Di tengah lembaran merah busuk yang mengapung itu, tak ada mata, tak ada hidung. Hanya ada rongga melingkar dengan taring-taring lunak di sepanjang pinggirannya yang berdenyut pelan, seolah siap menyedot kehidupan.
“A-ama…” hanya itu yang terucap dari mulut Ranto. Tenggorokannya mendadak tercekat. Tangannya gemetar hebat. Ia berusaha melepas tali jala yang ternyata sudah membelit pergelangan tangannya sendiri. Namun semuanya telah terlambat.

Bayangan-bayangan hitam bergulung naik dengan lembut, tanpa suara. Wujudnya yang menyerupai tikar bernyawa itu langsung melilit bagian bawah perahu. Dan air danau tiba-tiba bergolak keras. Sebelum Ranto sempat berteriak, sebuah juluran serat basah menyeruak dari air dan menyerap cepat melilit kakinya.
Ranto merasakan sensasi dingin yang luar biasa. Lebih dingin dari timbunan es. Lebih dingin dari puncak musim dingin Danau Laut Tawar saat musim hujan. Itulah saat Ranto juga merasakan kulitnya terasa ditusuk ribuan jarum halus secara bersamaan.
Lalu ia menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri bagaimana pembuluh darah di tangannya menegang, dan perlahan-lahan menyusut. Menjadi pucat. Danau terasa menyedot seluruh kehangatan dari dalam dadanya. Begitulah Lembide menggigit dan menyesap semuanya langsung dari dalam pori-pori darah Ranto.
Pandangan Ranto mulai kabur. Wajah Senye samar tergambar, berganti dengan gulungan merah di kegelapan air yang menelannya perlahan. Perahu kecil itu terbalik, dan danau menelannya perlahan. Malam kembali senyap.
Ketika fajar menyingsing di atas Takengon, menyapu kabut tipis yang tersisa di tepi danau, para nelayan yang hendak turun menemukan sebuah perahu kayu kosong mengapung tenang di tepian danau. Di atas tanah berlumpur, tak jauh dari perahu itu, tergeletak tubuh Ranto. Tak ada bekas luka pada tubuhnya. Hanya ada lubang kecil di bagian pangkal kedua ibu jari kakinya.
Orang-orang yang mengelilingi jenazah Ranto saling memandang, lalu berbisik, “Lembide…” Mereka memandangi tubuh Ranto yang kisut seakan kehabisan darah. Kulitnya memutih, begitu pucat. Mereka lalu menatap jauh ke tengah danau yang kembali tenang dan biru, sambil bersuara pelan, “Lembide sudah menagih jatahnya lagi…”
Ama, ayah Ranto, dengan langkah gontai mendatangi rumah Senye. Di teras rumah, ia menyalami dan memeluk tubuh calon menantunya itu. Tak lama kemudian ia berpamitan karena akan segera menguburkan mayat Ranto.
Namun, saat melangkah pulang, dan kemudian menoleh ke belakang, Ama merasakan sesuatu yang aneh. Ia seperti melihat sosok yang berganti-ganti sedang terisak: itu tangis Senye atau Pukes…
