Lembide

Dulu, orang-orang berkulit putih menyebutnya sekoci di atas awan. Ia memang sebuah cekungan, berbentuk seperti sekoci. Sekoci itu berada di ketinggian dataran Gayo. Lebih tinggi dari awan. Begitulah akhirnya ia disebut sekoci di atas awan.

Tapi orang-orang Gayo sendiri menamainya Danau Laut Tawar. Mungkin saking luasnya, ia terlihat seperti laut tapi berair tawar. Garis lingkarnya sekitar lima puluh kilometer. Pada danau itulah orang-orang berutang hidup. Ia menjadi denyut nadi masyarakat dataran tinggi Gayo. Menjadi bagian dari ribuan riwayat lawas yang sebagian dicatat dalam ingatan orang-orang zaman dulu. Sebagian lagi mengalun dalam syair-syair didong yang dinyanyikan turun-temurun.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Pada mulanya ia hanyalah sebuah lembah yang dikelilingi perbukitan hijau. Di lembah itulah dulu orang-orang Gayo menjalani hidup. Tapi entah sejak kapan cekungan besar di ketinggian itu dipenuhi air. Mungkin sejak Pukes menentang pantangan dari tetuanya ketika hendak pergi meninggalkan lembah. Perempuan itu, beserta orang-orang yang menyertainya, membatu di sana ketika menoleh ke belakang, lalu menjadi batu, lalu menangis tiada henti. Sampai air matanya menenggelamkannya. Sampai menenggelamkan semuanya.

Bukan hanya Pukes yang menjadi rahasia di kedalaman air danau itu. Kadang dengan berbisik, orang-orang juga sering menyebut Lembide sambil mengarahkan telunjuk ke tengah danau. Kadang dengan tubuh menggigil entah karena kedinginan atau sebab ketakutan.

Ketika seseorang menyebut nama Lembide, yang terbayang adalah gulungan tikar halus yang hanyut di air danau. Tapi ia bukan gulungan tikar biasa. Ia bisa berubah rupa, lalu menjadi bayangan yang mengendap-endap menunggu mangsa. Semua akan terisap tak tersisa.

Tentu saja, ketika malam itu Ama mengatakan “Lembide,” nada suaranya bergetar dan tubuhnya menggigil.

Malam itu, sang anak, Ranto, sedang bimbang. Waktu meminang sang tunangan, Senye, akan segera berakhir. Sementara, Ranto belum cukup uang untuk membeli mahar beberapa gram emas yang dijanjikan kepada sang pujaan hati. Satu-satunya jalan ia harus bisa menjaring depik, ikan yang hanya hidup di danau itu. Jika mampu menjaring depik sebanyak-banyaknya, lalu dijual ke pasar, ia akan membawa pulang banyak uang. Ia akan segera melamar kekasihnya.

Malam itu kebetulan musimnya angin dingin dari Utara. Itu artinya depik sedang melimpah di tengah danau. Anugerah dari Sang Pencipta alam sedang dicurahkan ke danau itu: ikan-ikan depik itu.

Saat itu sekitaran Danau Laut Tawar begitu sepi mencekam. Tak ada suara apa pun yang terdengar kecuali gemericik ombak air danau yang disapu angin. Angin yang datang dari Utara itu tak hanya membuat tubuh semua orang menggigil kedinginan. Ia juga menyebarkan bau anyir lumpur dan embun pekat. Tak ada orang yang nekat berada di dekat-dekat danau. Tanda-tanda kehidupan hanya datang dari kelap-kelip lampu dari rumah-rumah yang pintu dan jendelanya tertutup rapat.

Tapi demi gadis pujaan, di tengah gelap malam itu Ranto justru menyiapkan perahu kayu, dayung, dan jala.

Mengetahui anaknya bersiap hendak mendayung, mata sang ayah melotot. Tapi tubuhnya menggigil saat dari mulutnya terucap semacam peringatan, “Lembide!”

“Jangan, Ranto! Kabut putih makin tebal di atas air. Lembide sedang menenun jala,” kata Ama sambil memegangi tangan anaknya. Tapi Ranto justru menepis tangan ayahnya.

Yang ada dalam benaknya, inilah waktu terbaik untuk menjaring sebanyak mungkin ikan depik. Inilah saatnya membeli perhiasan beberapa gram emas untuk meminang Senye.

Itulah yang mendorong Ranto menurunkan perahunya ke danau. Seorang diri, di tengah gelap dan dingin yang menusuk tulang, ia mulai mendayung perlahan. Suara kecipak air terdengar khusyuk. Ranto mengarahkan biduknya ke arah kabut putih tebal yang menggantung rendah. Sebab, di bawah kabut tebal itulah ikan-ikan depik biasa berkumpul.

Prak!!! Dayung Ranto menembus permukaan air yang sehitam tinta. Ia langsung terdiam. Menggigil. Keheningan begitu mencekam, hingga detak jantungnya sendiri terdengar menyiksa telinga. Itulah saatnya. Dengan tangan yang menggigil, Ranto langsung menebar jala. Ia menunggu beberapa saat, membayangkan tumpukan ikan berwarna perak bersisik yang akan memenuhi lambung perahunya.

Tapi saat itulah tali jala di tangannya terentang mengencang. Perahu kecilnya bergoyang hebat.

“Dapat!” seru Ranto pelan, matanya berbinar.

Ia mulai menarik tali itu. Namun, beban di ujung sana terasa terlampau berat, seolah ia sedang menarik sebongkah batu raksasa dari dasar danau. Otot-otot lengannya menegang. Semakin tali itu ditarik, permukaan danau di sekeliling perahunya justru semakin tenang, terlalu tenang, hingga tak ada gelombang sedikitpun.

Lalu, bau itu datang. Bau amis yang memualkan, berpadu dengan aroma lumpur busuk dan lumut tua. Dari balik kegelapan air, muncul bayangan tipis, seperti helai-helai kain merah tua yang melayang naik. Bukan, itu bukan kain. Itu menyerupai jaring kulit lembab berserat, melebar seperti tikar anyaman raksasa yang merayap tepat di bawah permukaan perahu Ranto.

Tubuh Ranto membeku. Bau busuk itu kini menusuk hidungnya.

Di tengah lembaran merah busuk yang mengapung itu, tak ada mata, tak ada hidung. Hanya ada rongga melingkar dengan taring-taring lunak di sepanjang pinggirannya yang berdenyut pelan, seolah siap menyedot kehidupan.

“A-ama…” hanya itu yang terucap dari mulut Ranto. Tenggorokannya mendadak tercekat. Tangannya gemetar hebat. Ia berusaha melepas tali jala yang ternyata sudah membelit pergelangan tangannya sendiri. Namun semuanya telah terlambat.

Bayangan-bayangan hitam bergulung naik dengan lembut, tanpa suara. Wujudnya yang menyerupai tikar bernyawa itu langsung melilit bagian bawah perahu. Dan air danau tiba-tiba bergolak keras. Sebelum Ranto sempat berteriak, sebuah juluran serat basah menyeruak dari air dan menyerap cepat melilit kakinya.

Ranto merasakan sensasi dingin yang luar biasa. Lebih dingin dari timbunan es. Lebih dingin dari puncak musim dingin Danau Laut Tawar saat musim hujan. Itulah saat Ranto juga merasakan kulitnya terasa ditusuk ribuan jarum halus secara bersamaan.

Lalu ia menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri bagaimana pembuluh darah di tangannya menegang, dan perlahan-lahan menyusut. Menjadi pucat. Danau terasa menyedot seluruh kehangatan dari dalam dadanya. Begitulah Lembide menggigit dan menyesap semuanya langsung dari dalam pori-pori darah Ranto.

Pandangan Ranto mulai kabur. Wajah Senye samar tergambar, berganti dengan gulungan merah di kegelapan air yang menelannya perlahan. Perahu kecil itu terbalik, dan danau menelannya perlahan. Malam kembali senyap.

Ketika fajar menyingsing di atas Takengon, menyapu kabut tipis yang tersisa di tepi danau, para nelayan yang hendak turun menemukan sebuah perahu kayu kosong mengapung tenang di tepian danau. Di atas tanah berlumpur, tak jauh dari perahu itu, tergeletak tubuh Ranto. Tak ada bekas luka pada tubuhnya. Hanya ada lubang kecil di bagian pangkal kedua ibu jari kakinya.

Orang-orang yang mengelilingi jenazah Ranto saling memandang, lalu berbisik, “Lembide…” Mereka memandangi tubuh Ranto yang kisut seakan kehabisan darah. Kulitnya memutih, begitu pucat. Mereka lalu menatap jauh ke tengah danau yang kembali tenang dan biru, sambil bersuara pelan, “Lembide sudah menagih jatahnya lagi…”

Ama, ayah Ranto, dengan langkah gontai mendatangi rumah Senye. Di teras rumah, ia menyalami dan memeluk tubuh calon menantunya itu. Tak lama kemudian ia berpamitan karena akan segera menguburkan mayat Ranto.

Namun, saat melangkah pulang, dan kemudian menoleh ke belakang, Ama merasakan sesuatu yang aneh. Ia seperti melihat sosok yang berganti-ganti sedang terisak: itu tangis Senye atau Pukes…

Tinggalkan Balasan