Dulu, orang-orang berkulit putih menyebutnya sekoci di atas awan. Ia memang sebuah cekungan, berbentuk seperti sekoci. Sekoci itu berada di ketinggian dataran Gayo. Lebih tinggi dari awan. Begitulah akhirnya ia disebut sekoci di atas awan.
Tapi orang-orang Gayo sendiri menamainya Danau Laut Tawar. Mungkin saking luasnya, ia terlihat seperti laut tapi berair tawar. Garis lingkarnya sekitar lima puluh kilometer. Pada danau itulah orang-orang berutang hidup. Ia menjadi denyut nadi masyarakat dataran tinggi Gayo. Menjadi bagian dari ribuan riwayat lawas yang sebagian dicatat dalam ingatan orang-orang zaman dulu. Sebagian lagi mengalun dalam syair-syair didong yang dinyanyikan turun-temurun.

Pada mulanya ia hanyalah sebuah lembah yang dikelilingi perbukitan hijau. Di lembah itulah dulu orang-orang Gayo menjalani hidup. Tapi entah sejak kapan cekungan besar di ketinggian itu dipenuhi air. Mungkin sejak Pukes menentang pantangan dari tetuanya ketika hendak pergi meninggalkan lembah. Perempuan itu, beserta orang-orang yang menyertainya, membatu di sana ketika menoleh ke belakang, lalu menjadi batu, lalu menangis tiada henti. Sampai air matanya menenggelamkannya. Sampai menenggelamkan semuanya.
Bukan hanya Pukes yang menjadi rahasia di kedalaman air danau itu. Kadang dengan berbisik, orang-orang juga sering menyebut Lembide sambil mengarahkan telunjuk ke tengah danau. Kadang dengan tubuh menggigil entah karena kedinginan atau sebab ketakutan.
Ketika seseorang menyebut nama Lembide, yang terbayang adalah gulungan tikar halus yang hanyut di air danau. Tapi ia bukan gulungan tikar biasa. Ia bisa berubah rupa, lalu menjadi bayangan yang mengendap-endap menunggu mangsa. Semua akan terisap tak tersisa.
Tentu saja, ketika malam itu Ama mengatakan “Lembide,” nada suaranya bergetar dan tubuhnya menggigil.
Malam itu, sang anak, Ranto, sedang bimbang. Waktu meminang sang tunangan, Senye, akan segera berakhir. Sementara, Ranto belum cukup uang untuk membeli mahar beberapa gram emas yang dijanjikan kepada sang pujaan hati. Satu-satunya jalan ia harus bisa menjaring depik, ikan yang hanya hidup di danau itu. Jika mampu menjaring depik sebanyak-banyaknya, lalu dijual ke pasar, ia akan membawa pulang banyak uang. Ia akan segera melamar kekasihnya.
Malam itu kebetulan musimnya angin dingin dari Utara. Itu artinya depik sedang melimpah di tengah danau. Anugerah dari Sang Pencipta alam sedang dicurahkan ke danau itu: ikan-ikan depik itu.
Saat itu sekitaran Danau Laut Tawar begitu sepi mencekam. Tak ada suara apa pun yang terdengar kecuali gemericik ombak air danau yang disapu angin. Angin yang datang dari Utara itu tak hanya membuat tubuh semua orang menggigil kedinginan. Ia juga menyebarkan bau anyir lumpur dan embun pekat. Tak ada orang yang nekat berada di dekat-dekat danau. Tanda-tanda kehidupan hanya datang dari kelap-kelip lampu dari rumah-rumah yang pintu dan jendelanya tertutup rapat.
Tapi demi gadis pujaan, di tengah gelap malam itu Ranto justru menyiapkan perahu kayu, dayung, dan jala.
