Penting untuk diperhatikan, pada momen tertentu, pendekatan monologis tentu cukup rentan mengarah pada klaim kebenaran sepihak (eksklusivis). Sebab, ia tidak membuka ruang adanya koreksi dan kesempatan untuk memahami sesuatu dari sudut pandang yang lain. Paradigma yang sempit itu, pada kulminasinya akan menghilangkan daya kritis terhadap sesuatu yang seharusnya masih membutuhkan pengkajian dan penalaran.
Untuk meminimalisasi hal yang demikian, pesantren harus bisa membuka horizon cara berliterasi yang lebih konstruktif dan elaboratif. Jika terus menerus mempertahankan cara berliterasi monolog, dampak yang lebih besar akan terjadi, pesantren akan kehilangan peminatnya! Tentu ini bukan yang kita harapkan.

Karena itu, sudah saatnya pesantren memberikan kemampuan literasi yang konstruktif bagi santri-santrinya. Santri perlu mengetahui pelbagai ragam perspektif, mereka jangan dipaksakan untuk menerima satu perspektif saja. Santri harus dituntut untuk memberangus kebodohan dan ketakutan dalam diri mereka dengan cara berdialog. Sekali lagi ini adalah demi kebaikan santri ke depannya.
Warisan Islam Klasik
Salah satu virus akut yang masih menjangkit dalam sistem literasi pesantren adalah perasaan “curiga”. Curiga pada “perspektif baru”, yang disinyalir dapat mengurangi nilai-nilai religius, menciderai ketakwaan, dan merusak kredo iman. Perspektif baru ditolak dengan alasan yang sangat abstrak dan irrasional, yaitu untuk menjaga “kemurnian akidah” dari sesuatu yang bidah.
Kecurigaan ini tentu dapat menghilangkan dinamika dan semangat para pemangku pesantren untuk mengkaji keilmuan. Kita mungkin lupa, bahwa melek literasi dan kesalehan senantiasa berjalan seiring dan mengantarkan peradaban keislaman pada gerbang puncak kejayaan.
Kejayaan masa Islam klasik ditandai dengan warisan literatur yang sangat luar biasa. Lihat betapa banyaknya genre kitab-kitab yang telah ditulis oleh mereka, mulai dari ilmu kalam, tasawuf, ushul fiqh, sampai pada filsafat, dan yang pasti tak dapat dikuantifikasikan.
