“He-he-he, aku coba-coba saja.”
Pelaksanaan lomba pun tiba. Saya sudah mempersiapkan segalanya dan seadanya. Maklum, saya juga terbatas dalam kosa kata (mufradat) Bahasa Arab. Tetapi dengan berbekal keyakinan, saya maju sebagai peserta dalam lomba ini. Sebenarnya, yang diperlombakan saat itu bukan saja pidato Bahasa Arab. Tetapi ada beberapa lomba lainnya, seingat saya ada lomba percakapan, qiroah, dan drama Bahasa Arab. Digabung dalam satu kali perlombaan dengan cara diselang seling.

Dengan penuh keyakinan, saya maju ke depan mimbar. Membawakan pidato yang entah apa temanya pada saat itu. Yang pasti saya membawakannya dengan penuh kesungguhan. Meski tidak saya dengar gemuruh tepuk tangan, tapi saya yakin bahwa apa yang saya bawakan akan berhasil. Setidaknya dapat juara meski bukan yang pertama.
“Juara pertama lomba pidato Bahasa Arab adalah…,” (panitia menyebutkan nama saya). Tentu saja saja bangga. Di hadapan banyak santri saya dapat juara lomba Bahasa Arab. Padahal kemampuan Bahasa Arab saya sangat terbatas. Tetapi, itulah takdir. Jika Allah berkehendak, apa pun dapat terjadi. “Idza araada syai’an an yaquula lahu kun fayakun;. Saya pun menerima hadiah sebagai penghargaan atas juara lomba ini. Syukurlah, ikhtiar untuk mengikuti lomba Bahasa Arab terbilang sukses.
