MEJA MAKAN YANG DIAM
Meja makan siang itu kosong.
Piring tertata seperti kenangan yang belum disentuh.
Dapur tetap menyala
bukan untuk mengenyangkan
melainkan untuk menguji.
Aku duduk berhadapan dengan keinginanku sendiri.
Ia bersuara lirih
lebih jujur dari biasanya.
Ternyata lapar adalah bahasa yang paling tua.
Ia tidak berteriak
hanya mengingatkan
bahwa tubuh ini tanah
dan tanah tahu caranya menunggu hujan.
Ketika azan mengudara
suara itu seperti pintu dibuka perlahan.
Yang masuk bukan hanya makanan
melainkan semacam keringanan
yang tak bisa dibeli, apalagi dengan kelalaian.

KOTA MENJELANG SENJA
Kota menahan napas.
Lampu-lampu belum sepenuhnya menyala
langit menggantung warna karat.
Di trotoar
orang-orang memanggul kantong plastik seperti memanggul harapan kecil.
Seorang anak menatap gelas berisi es yang berembun pelan.
Embun itu lebih sabar
daripada manusia.
Ramadan tidak berbicara keras di kota.
Ia menyelip di antara klakson
di sela antrean
di keringat yang asin.
Dan ketika suara itu tiba
dari menara yang tinggi
keramaian mendadak menjadi hening—
seperti kota yang sebentar saja
ingat bahwa ia bukan pusat dunia.
