Madrasah Pemikiran dalam Wacana Tajdid Turats

Madrasah Mesir

Madrasah ketiga yang dibahas oleh Syekh Ahmad Thayyeb merujuk pada proyek intelektual Hassan Hanafi yang dikenal dengan istilah “التراث والتجديد” (turats dan tajdid).

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Madrasah ini memiliki perbedaan mendasar dengan pendekatan yang menggunakan istilah tajdīd al-turāth. Dalam pendekatan tajdīd al-turāth, turats tetap dipandang sebagai otoritas utama yang harus dijaga. Dalam kerangka ini dibedakan antara hal-hal yang bersifat tetap (الثوابت) dan hal-hal yang dapat berubah (المتغيرات). Unsur-unsur yang tetap dipertahankan, sementara unsur-unsur yang berubah dapat diperbarui sesuai dengan perkembangan zaman.

Namun dalam proyek Hassan Hanafi, turats dipahami sebagai titik awal sekaligus sarana, sedangkan tajdid menjadi tujuan utama. Dengan kata lain, turats dipandang sebagai produk sejarah yang dapat digunakan untuk menafsirkan kembali realitas dan menyelesaikan problem-problem modern, bukan sebagai sesuatu yang harus dipertahankan secara mutlak.

Dalam perspektif ini, nilai turats diukur dari sejauh mana ia mampu memberikan kerangka teoritis yang dapat membantu memahami realitas kontemporer dan mendorong perubahan sosial.

Konsep Turats dalam Madrasah Mesir

Menurut pendekatan ini, turats tidak hanya berarti kumpulan kitab klasik atau manuskrip lama, melainkan keseluruhan warisan budaya masyarakat. Turats juga tidak dipandang sebagai kebenaran yang berdiri di luar realitas, karena ia lahir dari kondisi sosial masyarakat pada masa lalu.

Dengan demikian, turats dianggap sebagai ekspresi dari realitas sosial masyarakat secara luas, baik yang berkaitan dengan kalangan ulama maupun masyarakat umum. Bahkan dalam pengertian yang lebih luas, turats dipandang hampir identik dengan budaya suatu bangsa.

Dari pemahaman tersebut dapat disimpulkan bahwa pendekatan ini cenderung menyamakan antara agama dan tradisi budaya masyarakat. Dalam kerangka ini, tidak ada perbedaan esensial antara seni religius dan seni rakyat. Akibatnya, teks-teks agama seperti Al-Qur’an dapat dipandang sejajar dengan karya-karya budaya lainnya, termasuk cerita rakyat yang bersumber dari mitos dan legenda.

Tinggalkan Balasan