Madrasah Pemikiran dalam Wacana Tajdid Turats

Padahal, jika ditelaah lebih mendalam, Al-Farabi justru merupakan seorang metafisikawan yang menaruh perhatian besar pada persoalan metafisika. Hal ini terlihat dari konsep-konsep yang ia kembangkan, seperti wājib al-wujūd, mumkin al-wujūd, serta teori emanasi. Pembahasan Al-Farabi tentang materi tidak berarti bahwa ia menganut paham materialisme, karena sistem filsafatnya tetap mengakui realitas metafisik.

Contoh lain adalah klaim mereka terhadap Ibrahim an-Nazzam, seorang tokoh Mu‘tazilah. Ia dianggap sebagai pelopor pembebasan manusia dari kekuasaan Tuhan hanya karena pendapatnya bahwa “Allah tidak mampu melakukan kezaliman”. Padahal pernyataan tersebut justru lahir dari keyakinan teologis Mu‘tazilah tentang keadilan Tuhan, bukan dari penolakan terhadap eksistensi Tuhan.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Madrasah ini juga menganggap bahwa Ikhwan al-Shafa, sekelompok filsuf abad ke-10, merupakan pelopor teori evolusi sebelum Lamarck dan Darwin. Klaim ini didasarkan pada gagasan kosmologi mereka yang menggambarkan perkembangan bertahap makhluk hidup. Namun, jika diteliti lebih jauh, konsep tersebut sebenarnya berkaitan dengan teori emanasi yang bersifat metafisik, sehingga sangat berbeda dengan teori evolusi biologis yang dianut oleh para materialis modern.

Secara singkat, madrasah Suriah berusaha menunjukkan bahwa sebagian besar pemikir Islam klasik memiliki kecenderungan materialistis. Mereka bahkan berpendapat bahwa dalam sejarah Islam terdapat berbagai hambatan yang menghalangi berkembangnya materialisme secara penuh, seperti dominasi agama, sistem teologis, dan otoritas ulama.

Madrasah Maghribiyah

Berbeda dengan madrasah Suriah, madrasah Maghribiyah lebih dikenal melalui proyek kritik nalar Arab yang dikembangkan oleh Muhammad Abid al-Jabiri. Menurut pendekatan ini, dalam sejarah pemikiran Islam terdapat tiga sistem epistemologi utama, yaitu: Al-bayān, yaitu rasionalitas yang berbasis pada teks agama dan ilmu-ilmu syariah; Al-burhān, yaitu rasionalitas filosofis yang bersifat demonstratif dan logis; dan Al-‘irfān, yaitu pengetahuan intuitif yang berkaitan dengan pengalaman mistik dan tasawuf.

Menurut analisis madrasah ini, krisis pemikiran Islam disebabkan oleh dominasi al-‘irfān atas al-bayān dan al-burhān. Dengan kata lain, rasionalitas filosofis dalam tradisi Islam dianggap telah dikalahkan oleh kecenderungan mistisisme dan intuisi metafisik.

Madrasah ini juga membagi nalar Arab ke dalam dua wilayah besar. Pertama, akal Timur, yang dipandang bersifat metafisik dan bertumpu pada ilmu kalam. Kedua, akal Barat, yang dianggap lebih ilmiah karena berdiri di atas fondasi matematika dan logika. Menurut mereka, tradisi rasional Barat dalam dunia Islam, terutama yang berkembang di Andalusia, akhirnya kalah oleh dominasi pemikiran Timur yang lebih mistis.

Oleh karena itu, mereka berpendapat bahwa pembaruan pemikiran Islam tidak hanya memerlukan penerimaan terhadap metodologi modern, tetapi juga perlu menghidupkan kembali tradisi rasional Barat yang diwakili oleh tokoh-tokoh seperti Ibn Rushd. Dalam pandangan ini, turāth justru dipandang sebagai salah satu faktor yang menyebabkan kemunduran umat Islam karena dianggap terlalu dipengaruhi oleh kecenderungan irfan yang mistis.

Tinggalkan Balasan