Di sela-sela pemaparannya, Kiai Awis menceritakan kisah unik di balik penulisan kitab Kunuz Al-Rahman fi Durus Al-Qur’an ini. Ide ini berawal dari komentar KH Zulfa Mustofa saat launching kitab tafsir sebelumnya, Hidayatul Quran.
Kala itu, Kiai Zulfa menyebut bahwa Hidayatul Quran cenderung bersifat tekstual. Termotivasi dari masukan tersebut, Kiai Awis mulai menulis kitab baru yang dapat membuktikan bahwa Al-Qur’an adalah kitab yang solutif di segala kondisi.

Kiai Awis menjuluki karyanya ini sebagai “Durus Qur’an versi Njoso“, merujuk pada Desa Rejoso yang menjadi lokasi Pondok Pesantren Darul Ulum. Melalui peluncuran ini, Kiai Awis berharap mendapatkan banyak masukan konstruktif untuk penyempurnaan karyanya.
Setelah pemaparan materi selesai, agenda dilanjutkan dengan sesi tanya jawab yang berlangsung interaktif antara audiens dan narasumber, sebelum akhirnya ditutup dengan doa bersama.
Acara ini meninggalkan kesan mendalam bagi para peserta. Ikhsan Rahmatullah, salah satu santri Darul Ulum yang mengikuti jalannya kajian dari awal, mengaku sangat bahagia dan bersyukur.
Menurutnya, kehadiran para narasumber terkemuka dan kompeten di bidang Ulumul Qur’an ini telah membuka cakrawala baru bagi para santri. Lewat acara ini, mereka tidak hanya menambah wawasan, tetapi juga mulai memahami makna-makna rahasia yang terkandung di dalam setiap ayat suci kalamullah.
