“Kesadaran tersebut menuntun setiap tindakan seseorang selalu hadir sebagai saksi diri. Dengan begitu, nilai-nilai luhur Pancasila selalu hidup dalam setiap kehidupan manusia yang sadar, karena ia bersaksi bagi diriNya sendiri,” ujar Turita Indah.
Sementara itu, Ngatawi Al Zastrouw menegaskan bahwa Pancasila digali dari laku hidup dan tata nilai yang dijalankan oleh bangsa Nusantara. Pancasila bukanlah gagasan atau konsep yang mengawang, abstrak, dan tidak jelas.

“Problem Pancasila saat ini adalah dia hanya jadi slogan, bahan pidato dan retorika yang jauh dari laku hidup. Pancasila saat ini mengalami surplus kata-kata tapi minus keteladanan,” tandas Kang Zastrouw, sapaan akrabnya.
Pada kesempatan yang sama, Untung Yuwono menjelaskan bahwa meditasi, refleksi, dan tirakatan dalam acara ini sebagai upaya mendekatkan diri pada kesadaran yang lebih jernih. Dengan begitu, kita mampu menghadapi kehidupan dengan lebih bijaksana, lebih toleran, dan lebih penuh empati.
“Dari ruang-ruang seperti inilah semangat persatuan dan dialog antar-manusia dapat terus tumbuh,” ungkap Untung Yuwono.
