Peringatan Hari Lahir Pancasila setiap 1 Juni selalu menghadirkan suasana yang khidmat sekaligus membanggakan. Tahun ini, perhatian publik kembali tertuju pada formasi Pasukan Pengibar Bendera Pusaka di Gedung Pancasila yang tampil rapi dan penuh makna. Barisan yang tersusun seragam itu seolah menggambarkan cita-cita besar bangsa Indonesia: hidup bersama dalam keberagaman tanpa kehilangan persatuan.
Namun, pemandangan yang kita temui di ruang digital sering kali berbeda. Pada hari yang sama ketika linimasa dipenuhi ucapan tentang Pancasila, media sosial juga masih diramaikan oleh perdebatan yang kasar, penyebaran informasi yang belum tentu benar, hingga saling serang antarwarganet karena perbedaan pandangan. Kita tampak kompak dalam seremoni, tetapi belum tentu dalam cara berkomunikasi.

Di sinilah pentingnya memaknai kembali Pancasila bukan hanya sebagai simbol kebangsaan, melainkan sebagai pedoman hidup yang relevan dengan tantangan zaman. Jika dulu Pancasila menjadi perekat bangsa yang baru merdeka, kini ia dituntut hadir dalam ruang yang tidak pernah dibayangkan para pendiri bangsa: ruang virtual yang menghubungkan jutaan orang dalam satu waktu.
Kolom Komentar sebagai Arena Kebangsaan
Dalam pidato 1 Juni 1945, Bung Karno menyebut Pancasila sebagai leitstar atau bintang penuntun. Sebuah bintang penuntun tentu tidak hanya berguna pada satu masa, tetapi terus menjadi arah ketika zaman berubah. Karena itu, nilai-nilai Pancasila semestinya tidak berhenti di ruang kelas, buku pelajaran, atau upacara kenegaraan. Ia harus hadir dalam kehidupan sehari-hari, termasuk di dunia digital.
