GHA Juynboll (w. 2010 M) dalam bukunya Muslim Tradition juga ikut andil dalam mengomentari permulaan sanad. Menurutnya, kelahiran sistem sanad ini bermula ketika Ibn Zubair dengan tegas melakukan pemberontakan kepada otoritas Bani ‘Umayyah pada tahun 63-73 H.
Syekh Azami tidak sepakat dengan Schacht dan Juynboll, karena menurutnya Schacht dan Juynboll mengada-ada dengan pernyataan tersebut. Syekh Azami menyatakan bahwa sudah banyak fitnah yang terjadi sebelum kematian Walid bin Yazid maupun perang antara Ibn az Zubair dengan Abdul Malik bin Marwan. Sebut saja konflik antara Khalifah ‘Ali dengan Muawiyah bin Abi Sufyan. Peristiwa tersebut, menurut jumhur ulama, merupakan buntut dari tewasnya Khalifah Utsman bin Affan.

Selain itu, Syekh Azami juga melakukan telaah gramatika pada pernyataan Ibn Sirrin yang dipermasalahkan oleh Schacht. Penggunaan kata لَمْ يَكُونُوا يَسْأَلُونَ menggambarkan bahwa Ibn Sirrin sedang mengungkap suatu tradisi di masa sebelumnya. Dengan kata lain, Ibn Sirrin menyampaikan cerita yang lebih tua daripada periodenya sendiri. Dengan demikian, penggunaan sanad telah ada saat itu, namun tidak disyaratkan dengan khusus.
Pada tahap selanjutnya, autentisitas sanad dalam hadits menjadi sangat krusial dan mempunyai previlege yang tinggi. Karena, dengan sanad-lah, hadits dapat diterima sebagai otoritas keagamaan yang mengatasnamakan Nabi SAW. Dari sinilah kemudian lahir khazanah keilmuan hadits, seperti ilmu Rijal al Hadits yang di dalamnya memuat ilmu Thabaqat ar Ruwat (membahas biografi seorang periwayat hadits) dan ilmu Jarh wa at Ta’dil (membahas kredibilitas periwayat hadits).
Wallahu A’lam bi as Showaab.
