Mau Negara Islam? Islamnya Siapa…

Kenapa wajib dipertahankan? Sebab, masyarakat Nusantara ini sangat plural, baik dari segi suku, ras, agama, kepercayaan, bahasa, dan adat istiadat atau tradisinya. Di wilayah tertentu, seperti Jawa, mayoritas penduduknya muslim. Namun, di wilayah lain, muslim justru minoritas. Di Bali, misalnya, mayoritas penduduknya Hindu. Di Nusa Tenggara Timur dan Papua, mayoritas Kristen. Di Pulau Sumatra pun “terbelah-belah”: ada kantung-kantung yang mayoritas muslim, ada juga yang Kristen atau beragama lain.

Sahiron kemudian memberi gambaran, begitu, misalnya, di Jawa diproklamasikan sebagai Negara Islam, maka di Bali akan berdiri Negara Hindu, di NTT atau Papua akan muncul Negara Kristen, dan begitu seterusnya. “Maka yang terjadi NKRI akan tercabik-cabik oleh perang saudara,” ujar Sahiron.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Kalaupun, dia memisalkan, mayoritas penduduk menyetujui Islam sebagai dasar negara menggantikan Pancasila, pertanyaan berikutnya yang muncul adalah: Islamnya siapa? “Apakah Islamnya NU, Islamnya Muhammadiyah, Islamnya kelompok HTI, FPI, Wahabi, atau Islamnya siapa? Islamnya orang Aceh atau Islamnya orang Jawa?”

Sebab, menurutnya, penganut Islam itu tidak tunggal, yang pemahaman dan pengamalannya juga tidak tunggal pula. Dari sisi fikih atau hukum syariat yang dianut Ahlusunnah Waljamaah saja ada empat mazab, yaitu Maliki, Hanafi, Hambali, dan Syafii. Terus, mazabnya siapa yang dipakai sebagai dasar hokum Islamnya. Belum lagi dari sisi teologi, ada Jabbariyah, Muktazilah, Asyariyah, dan banyak lagi.

Tinggalkan Balasan