Tak sepopuler ulama besar lainnya. Namun, Mbah Hasyim Jalakan atau Mbah Hasyim Padangan dikenal sebagai ulama yang produktif menulis kitab. Juga gurunya banyak ulama di Tanah Jawa, khususnya Jawa Timur.

Nama aslinya Muhammad Hasyim. Beliau merupakan salah satu dari sekian banyak ulama karismatik Bojonegoro yang berkiprah sebagai penulis, penerjemah, dan mufasir. Beliau juga dikenal sebagai syaikhu syaikh (gurunya para guru) bagi beberapa ulama besar di tanah Jawa pada paro kedua abad ke-19 hingga paro pertama abad ke-20. Mbah Hasyim Jalakan lahir pada tahun 1850 M dan wafat pada tahun 1942 M.

Dalam buku Lahirnya NU Bojonegoro dan Hikayat Padangan Kota Cahaya karya Ahmad Wahyu Rizkiawan, dijelaskan bahwa Kiai Hasyim Jalakan lahir di Desa Ngasinan, Kecamatan Padangan, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur. Selain tahun kelahiran, nasab Mbah Hasyim belum diketahui secara pasti hingga kini. Namun, terdapat perbedaan informasi yang menyebutkan bahwa beliau merupakan putra dari seorang pejabat di Desa Ngasinan, Padangan.
Semasa muda, Kiai Hasyim menuntut ilmu kepada beberapa ulama, salah satunya Syaikh Abdurrahman Stren Padangan. Dari Syaikh Abdurrahman Stren inilah kealiman dan kiprah Kiai Hasyim Padangan di dunia syiar Islam bermula, walaupun hal tersebut tidak banyak dibahas dan diketahui orang. Selain itu, Kiai Hasyim pernah menuntut ilmu di Tanah Haramain kepada ulama-ulama besar di zamannya. Tak berhenti di situ, Kiai Hasyim juga sempat nyantri ke Madura, tepatnya kepada Syaikhona Cholil bin Abdul Lathif Bangkalan.[1]

Dalam buku NU Bojonegoro dalam Lintasan Sejarah (2008) karya Dr Anas Yusuf, dijelaskan bahwa Mbah Hasyim Padangan adalah sosok yang sering disowani oleh KH Abdul Wahab Chasbullah pada masa awal pendirian Nahdlatul Ulama (NU). Saat itu, Mbah Hasyim Jalakan diajak bertabaruk dan diistifadahi (dimintai berkah dan faedah ilmunya).
KH Wahab Chasbullah merupakan teman satu angkatan KH Usman Cepu, yang tak lain adalah menantu dari Mbah Hasyim Padangan. Selain karena status beliau sebagai ayah mertua dari sahabat karibnya, kedatangan KH Wahab Chasbullah kepada Mbah Hasyim juga bertujuan untuk ngalap berkah.
