Setelah disowani oleh Mbah Wahab Chasbullah, Mbah Hasyim Padangan langsung mengumpulkan murid dan anak-anaknya, seperti KH Marwan Kuncen, KH Masjkur Kuncen, KH Ahmad Bisri Mbaru, dan KH Hakam Hasyim. Mereka dikumpulkan untuk merintis keberadaan NU Padangan pada tahun 1938.
Tak hanya itu, Mbah Hasyim Padangan juga memerintahkan anaknya yang lain, yakni KH Sholeh Hasyim, untuk berdakwah dan membangun jalan berdirinya NU di Kota Bojonegoro pada kisaran tahun 1940-an. Meskipun demikian, NU Bojonegoro baru resmi berdiri pada tahun 1953, beberapa tahun setelah Mbah Hasyim Jalakan dan KH Sholeh Hasyim wafat.

Di antara santri Mbah Hasyim Padangan, yang paling terkenal adalah KH Baidlowi Lasem (1880–1970 M). Ayah dari KH Hamid Baidlowi tersebut merupakan santri Mbah Hasyim Padangan yang kelak menjadi ulama besar di Makkah dan masyhur sebagai waliyullah Lasem.
Hampir semua literatur tentang manakib KH Baidlowi Lasem selalu menyebut nama KH Hasyim Padangan sebagai salah seorang gurunya. Mbah Baidlowi memiliki tiga guru dari kalangan ulama Nusantara yang sangat memengaruhi kealimannya, yakni Kiai Hasyim Padangan Bojonegoro, Kiai Umar Harun Sarang, dan Kiai Idris Jamsaren Solo.
Mbah Baidlowi kemudian menjadi guru dari ulama-ulama besar generasi berikutnya, seperti KH Maimoen Zubair, KH Bisri Mustofa, KH Abdullah Faqih Langitan, hingga Abuya Dimyati Banten.
Pernah dalam sebuah pengajian umum di Cepu, KH Maimoen Zubair menyampaikan bahwa daerah di sebelah timur Kota Cepu (yang dimaksud adalah Padangan) merupakan lemah sepuh (tanah tua) yang pernah ditempati oleh banyak ulama dari golongan auliyaillah. Salah satunya adalah ulama besar ahli nahu saraf, yakni KH Hasyim Padangan, yang tidak lain merupakan guru dari guru Mbah Moen (Mbah Baidlowi Lasem).
Hal ini pula yang menjadi alasan mengapa KH Maimoen Zubair sangat menghormati Mbah Hasyim Padangan. Sampai saat ini, para santri Sarang masih sering berziarah ke makam Mbah Hasyim Padangan. Bahkan, dzuriyah (keturunan) Mbah Moen juga masih rutin mengisi kegiatan keagamaan di Padangan demi menjaga tali silaturahmi.
Karya Mbah Hasyim Jalakan
