Selain Tashrifan Jombangan karya KH Maksum bin Ali Diwek, ulama Bojonegoro ternyata juga memiliki kitab rujukan serupa yang dikenal sebagai Tasrifan Padangan karya Mbah Hasyim Jalakan. Menurut keterangan dari Admin Perpustakaan Pondok Pesantren Darul Amin Gembolo, Banyuwangi, Kitab Tashrif Jombangan merupakan penyempurnaan dari Kitab Tasrif Padangan [2]. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa Kitab Tasrif Padangan berusia lebih tua daripada Tashrif Jombangan.
Dalam penutup kitab Tasrifan Padangan yang diterbitkan oleh Maktabah Ahmad Nabhan Surabaya bertarikh 1388 H (1968 M), termaktub sejumlah karya Mbah Hasyim Padangan lainnya. Karya-karya tersebut mulai dari terjemahan Nadham Maqsud, terjemahan Imrithi, hingga terjemahan Alfiyah Ibnu Malik. Namun sayangnya, tidak semua karya Mbah Hasyim Padangan terdokumentasi dengan baik. Saat ini, hanya Tasrifan Padangan yang masih bisa dijumpai secara fisik.

Keluarga Mbah Hasyim Padangan
Semasa hidupnya, Kiai Hasyim Padangan menikah sebanyak dua kali. Kedua istrinya merupakan putri dari Mbah Asnawi, seorang ulama di Rowobayan, Padangan. Pernikahannya dengan Nyai Aminah binti Asnawi dikaruniai dua orang anak. Sementara itu, pernikahan Mbah Hasyim Padangan dengan Umi Madinah binti Asnawi dikaruniai 8 orang anak.
Anak kedua Mbah Hasyim dari pernikahannya dengan Umi Madinah binti Asnawi bernama KH Sholeh Hasyim. KH Sholeh Hasyim inilah yang kelak menjadi ulama penanam embrio NU di Kota Bojonegoro pada tahun 1940. Meskipun NU Bojonegoro baru resmi berdiri pada tahun 1953, nama KH Sholeh Hasyim tetap melekat kuat sebagai sesepuh dan muasis (pendiri) NU Bojonegoro.
Anak keempat Mbah Hasyim Padangan dengan Umi Madinah binti Asnawi bernama Nyai Hannah binti Hasyim. Nyai Hannah diperistri oleh KH Usman Cepu, pendiri pondok pesantren pertama di Kota Cepu yang bernama Ponpes Assalam. KH Usman Cepu juga merupakan sesepuh sekaligus muasis NU Cepu.
Daftar Pustaka:
[1] Ahmad Wahyu Rizkiawan, Tarikh Padangan, 2024, hlm. 166.
