Memahami Gerakan Ekologi Pesantren di Lubangsa*

Prediksi, berita, dan fakta di atas menujukkan betapa permukaan bumi sedang tidak baik-baik saja. Pertanyaannya adalah: apa yang mesti diperbuat oleh kita untuk merawat Bumi? Siapa yang perlu kita salahkan apabila Bumi pada tahun 2030 bakal dilanda bencana maha dahsyat? Perlukah pesantren turun tangan dalam mengatasi persoalan ekologi?

Dakwah Ekologi Lubangsa

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Beberapa tahun belakangan, pesantren memulai langkahnya dalam mengembangkan wawasan lingkungan. Gerakan ini bakal menjadikan pesantren menambah pekerjaan rumah di bidang ekologi. Tentunya penambahan itu memberi imbuh dari perjalanan dakwah eko-pesantren  yang sampai sekarang masih belum menemukan identitas yang cocok secara majemuk. Namun, pesantren bisa menerapkan tata kelola lingkungan terpadu, mandiri dan, bertanggung jawab tanpa kehadiran teknologi.

Kesederhanaan sebagai jubah pesantren mengantarkan kita membuat sistem pengembangan lingkungan tanpa bantuan teknologi sedikit pun. Ibarat seseorang tengah berjalan di waktu hujan, sedang ia tidak membawa payung. Teknologi bagi kita cuma alternatif untuk memudahkan sistem operasional secara baik. Ketika ketergantungan pada teknologi akhirnya runtuh, kita bisa mandiri dalam pengelolaan sampahnya.

Terbukti, Pondok Pesantren Annuqayah daerah Lubangsa memiliki model ekologi dengan cara menemukan laboratorium sampah. Laboratorium ini semacam tempat mata air pembuangan sampah mutakhir yang bisa membikin barang rongsokan jadi barang serba guna. Ia berada di titik temu dan titik silang dalam lintas santri dan masyarakat. Ia juga menjadi lokus besar ikhtiar pesantren menjaga kelestarian lingkungan. Sebagai mata air pesantren, kehadiran laboratorium sampah sangat berguna bagi keberlangsungan alam kita.

Tata kelola laboratorium sampah begitu sederhana, yakni pemenuhan akses tempat pemilahan sampah, perubahan pola pikir, dan kampanye antiplastik. Pengelolaan seperti itu dianggap mempunyai dampak yang cukup besar terhadap perilaku santri. Kita tahu perubahan perilaku tidak langsung mengubah secara total. Tetapi perubahan sedikit demi sedikit, mulai menggeser sikap tidak disiplin kita di level membuang sampah sembarangan menuju mengurusi sampahnya sendiri.

Meski pesantren berhasil mengelola sampahnya, kita sering kesulitan dalam menertibkan sampah dari luar. Sampah-sampah yang biasanya berasal dari tamu, pabrik, dan sejenisnya, terkadang tidak bisa terkontrol dengan baik. Bahkan, menjamurnya makanan di pesantren membuka peluang sampah sulit dicegah.

Tinggalkan Balasan