Membaca Ulang Ekologi Pesantren

Hal ini pernah disinggung dalam salah satu penelitian Bianca J. Smith and Mar Woodward (2014: 4-6) bahwa “Pesantren education is rooted in the textual traditions of sunni Islam, and at the same time the oral transmission of textual knowledge and wisdom lies close to the heart of pesantren culture.” Di mana, ekologi pesantren adalah kontekstualisasi nilai yang dipelajari dalam kajian-kajian di pesantren, kemudian menjadi budaya pesantren dalam siklus perkembangan dan komunikasi sosialnya. Mentransmisikan pengetahuan tekstual menjadi sebuah nilai kontekstual adalah sistem edukasi yang penting dalam sebuah pesantren. Oleh sebab itu wajar jika kemudian muncul isu tentang pesantren inklusi.

Karena, pesantren pada dasarnya memang bukan ruang eksklusif yang menutup diri dari perkembangan sosial kemasyarakatan. Hadirnya pesantren dalam tata ruang gerak sosial mendororng adanya dialektika sosial yang memberi pengaruh terhadap komunitas sosial yang ada. Oleh sebab itu, ada dua pertimbangan besar mengapa pesantren harus membuka diri. Karena ada aspek kemanusiaan yang harus diperjuangkan dan aspek kemandirian sebagai bentuk dari kontekstualisasi nilai-nilai pesantren.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Dengan keterbukaan itu maka meniscayakan akan ada ekologi yang terjalin baik antara pesantren dan masyarakat sosial. Meniscayakan gerak yang berkembang saling mengisi, menaungi satu di antara yang lain. Oleh sebab itu, jika dikatakan dalam tulisan sebelumnya ada pergeseran nilai, maka yang paling tampak dalam hal ini adalah eksklusifitasnya.

Tinggalkan Balasan