Memilih Pesantren: Ikhtiar Orang Tua untuk Anak

Keempat, perhatikan lingkungan pergaulan. Teman memiliki pengaruh besar dalam membentuk karakter anak. Lingkungan yang baik akan menjaga kebiasaan baik, sementara lingkungan yang kurang tepat dapat menggerusnya secara perlahan.Sebagaimana dalam nadzom Alala disebutkan:

#عنِ المرءِ لا تسألْ وسَلْ عن قرينِه

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

فإنَّ القرينَ بالمقارنِ يقتدي

(Jangan engkau tanyakan tentang seseorang, tetapi tanyakanlah tentang temannya, karena sesungguhnya seseorang itu akan mengikuti temannya).

Ungkapan ini menunjukkan bahwa seseorang sering kali terbentuk dari siapa ia bergaul. Karena itu, lingkungan pergaulan di pesantren menjadi faktor penting dalam menjaga dan membentuk karakter santri.

Selain itu, orang tua juga perlu memastikan bahwa lingkungan pesantren menjaga batasan interaksi antara laki-laki dan perempuan secara baik. Tidak hanya dalam pergaulan antar santri, tetapi juga dalam seluruh aktivitas pendidikan. Penjagaan adab ini penting sebagai bentuk perlindungan sekaligus pembentukan karakter santri.

Kelima, perhatikan keseharian santri, bukan hanya program yang ditawarkan. Jadwal yang rapi tidak selalu menjamin terbentuknya adab jika tidak diiringi dengan pembiasaan dalam kehidupan sehari-hari.

Jika memungkinkan, sebelum memasukkan anak ke pesantren, orang tua dapat melakukan pengamatan atau mencari informasi terlebih dahulu. Bagaimana kehidupan sehari-hari di dalamnya, bagaimana interaksi antar santri, serta bagaimana karakter para alumninya. Hal-hal semacam ini sering kali justru lebih menggambarkan keberhasilan pendidikan dibanding sekadar program yang tertulis.

Keenam, jangan hanya terpaku pada nama besar. Tidak sedikit pesantren yang dikenal luas, tetapi belum tentu sesuai dengan kebutuhan setiap keluarga. Sebaliknya, ada pesantren sederhana yang justru kuat dalam pembinaan akhlak.

Ketujuh, pastikan pesantren tidak hanya menekankan aspek keilmuan, tetapi juga pembentukan karakter. Sebagaimana nasehat Imam Malik: “Pelajarilah adab sebelum mempelajari ilmu.” Ilmu tanpa adab dapat kehilangan arah, sementara adab akan menjaga ilmu tetap pada jalurnya.

Dalam ungkapan yang dinisbatkan kepada beliau juga disebutkan: “Barangsiapa mempelajari tasawuf tanpa fikih, ia berpotensi menjadi zindiq. Barangsiapa mempelajari fikih tanpa tasawuf, ia berpotensi menjadi fasik. Dan barangsiapa menggabungkan keduanya, maka dialah yang mencapai kebenaran.”

Ungkapan ini menegaskan pentingnya keseimbangan antara pemahaman syariat dan pembinaan batin, agar ilmu tidak hanya benar secara hukum, tetapi juga hidup dalam akhlak.

Kedelapan, penting adanya komunikasi yang baik antara pesantren dan wali santri. Keterlibatan orang tua tetap dibutuhkan, meskipun anak berada di lingkungan pesantren.

Namun, komunikasi tersebut perlu dijaga dalam batas yang wajar. Orang tua tetap memberi kepercayaan kepada pesantren dalam mendidik anak, tanpa harus terlalu sering menghubungi yang justru dapat mengganggu proses pembelajaran dan kemandirian santri.

Tinggalkan Balasan