Masjid-masjid di daerah kita memiliki cara tersendiri untuk bercerita. Di permulaan Ramadan, mereka adalah panggung megah pertunjukan yang memiliki banyak sinar nan mempesona. Orang-orang berbondong-bondong datang, saf tak cukup sampai ke halaman. Bahkan tak sedikit tumit jemaah menempel pada aspal atau kelewat sajadah.
Senandung imam melafazkan ayat penuh khusyuk atau canda tawa anak kecil di selasar masjid seakan memberikan ‘setrum’ kolektif kepada siapa saja yang hadir.

Emile Durkheim, sosiolog asal Prancis menyebut hal itu sebagai collective effervescence. Sederhananya, jika semua orang hadir dan turut meramaikan salat tarawih, kita pun akan ikut dalam barisan saf tersebut. Namun, jujur saja, kehadiran itu tak rampung genap 30 hari. Seringkali dorongan hadir bukan karena alasan ilahiah, namun hanya ada dalam ranah sosial. Ada rasa yang sama ketika berada di tengah kerumunan orang yang sama-sama berpuasa.
Namun, menginjak pekan ketiga, saf yang tadinya tidak muat perlahan maju perlahan. Masjid menjadi luas seketika. Apakah sebagaian dari mereka pemalas? Ataukah hanya terjerumus FOMO tarawih? Wallahu A`lam. Tapi, bagi saya, itu adalah pertarungan yang jujur di antara keinginan manusia dan keterbatasan biologis yang tidak bisa ditawar.
Seolah-olah, masjid sedang mengamini apa yang dikatakan Friedrich Nietzsche, “manusia adalah tali tambang yang terentang antara binatang dan adimanusia, sebuah tambang di atas jurang tak berdasar”. Di saf masjid itulah jurang itu terlihat. Antara keinginan menjadi ‘adimanusia’ dan kenyataan menjadi ‘makhluk biologis’ yang butuh tidur, makan, dan kadang-kadang foya-foya.
Dalam teropong psikologi, kita mengenal istial ego depletion. Gampangnya, manusia memiliki ‘bahan bakar’ dalam keinginannya. Genap 30 hari menahan lapar dan haus, ditempa rutinitas harian yang sama porsinya seperti di luar Ramadan, tentu saja cadangan energi mental itu terkuras. Barangkali, orang-orang berhenti ke masjid bukan karena tiba-tiba mereka tidak lagi tahu caranya shalat, tapi karena mereka sudah sampai pada titik di mana fisik dan mental perlu bernegosiasi.
