Di sisi lain, penting memastikan bahwa pesantren memiliki waktu atau mekanisme yang jelas untuk komunikasi dan kunjungan, agar hubungan antara anak dan orang tua tetap terjaga dengan baik.
Yang terakhir, pastikan pesantren yang dipilih sesuai dengan kondisi ekonomi keluarga. Biaya pendidikan yang terlalu dipaksakan justru dapat menjadi beban dan mengganggu keberlangsungan proses belajar anak. Kesesuaian ini penting agar pendidikan dapat berjalan dengan tenang dan berkelanjutan.

Selain memilih pesantren, orang tua juga perlu memastikan bahwa biaya yang digunakan untuk pendidikan anak berasal dari sumber yang halal. Sebab, keberkahan ilmu tidak hanya ditentukan oleh tempat belajar dan guru, tetapi juga oleh apa yang menjadi penopangnya.
Insyaallah, jika hal-hal tersebut diperhatikan dalam memilih pesantren, anak-anak kita dapat lebih terjaga dari berbagai hal yang tidak diharapkan. Termasuk berbagai kasus yang belakangan menjadi sorotan publik, seperti pelecehan, perundungan, dan perilaku lain yang tidak selaras dengan nilai-nilai pendidikan pesantren.
Namun demikian, kita juga perlu menyadari bahwa tidak ada tempat yang benar-benar sempurna. Manusia adalah tempatnya salah dan lupa. Karena itu, ikhtiar dalam memilih harus tetap diiringi dengan pengawasan, doa, dan pendampingan dari orang tua.
Pada akhirnya, sebaik apapun pesantren yang dipilih, orang tua tidak bisa sepenuhnya “menitipkan” pendidikan anak. Tanggung jawab itu tetap melekat, baik selama anak mondok maupun setelahnya.
Al-Qur’an telah memberi gambaran bahwa pendidikan seharusnya dimulai dari orang tua. Dalam nasihat Luqman kepada anaknya disebutkan:
“Wahai anakku, janganlah engkau mempersekutukan Allah, sesungguhnya syirik adalah kezaliman yang besar…” (QS. Luqman: 13)
Ayat ini menunjukkan bahwa pendidikan paling mendasar—tentang tauhid, adab, dan kehidupan—berawal dari orang tua, bukan semata-mata dari lembaga pendidikan.
Dalam nasihat ulama juga disebutkan bahwa pendidikan anak tidak berhenti pada siapa gurunya, tetapi sangat bergantung pada siapa yang terus membersamainya. Ali bin Abi Thalib pernah mengingatkan bahwa hati anak itu ibarat tanah kosong; apa pun yang ditanam di dalamnya akan tumbuh.
Anak adalah pribadi yang masih labil dan mudah terpengaruh. Terlebih ketika ia keluar dari pesantren untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih bebas, di situlah nilai-nilai yang selama ini ditanamkan benar-benar diuji.
Pesantren mungkin adalah tempat menanam, tetapi rumah dan orang tua adalah tempat merawatnya agar tetap tumbuh.
