Memudarnya Identitas Manusia Modern

Anthony Giddens,sosiolog inggris terkemuka berpandangan bahwa hal-hal seperti itu sebagai refleksivitas modern. Manusia mempunyai kendali yang dominan untuk membentuk kehidupannya sendiri, tanpa terikat dengan tradisi terdahulu.

Contoh konkret yang terjadi di sekitar kita adalah “Instagram Identity”, di mana seseorang membentuk citra diri berdasarkan estetika dan konsumsi.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Seorang remaja bisa tampil sebagai aktivis lingkungan di Instagram, tetapi di waktu yang sama ia bisa menjadi konsumen rakus yang merusak lingkungan. Identitas seperti itu menjadi kolase-kolase potongan yang diambil dari media sosial, tren global, dan berita yang viral.

Algoritma Penentu Identitas

Identitas yang meleleh juga tidak bisa dihindarkan dari sistem algoritmik. Media sosial tak hanya menjadi wadah untuk mengekspresikan diri, tapi juga bisa menjadi alat penyeragaman.

Dalam buku Psychopolitics, Byung-Chul Man menyatakan bahwa masyakarat sekarang tidak lagi dikendalikan oleh represi, melainkan oleh “kebebasan yang diproduksi oleh sistem”.

Secara alamiah, kita merasa memilih sesuatu, padahal sebenarnya kita diarahkan ke objek tertentu. Sebagai contoh, TikTok menunjukkan bagaimana seseorang bergaya dalam berpakaian, cara berbicara, bahkan minat spiritualnya hanya untuk masuk FYP (For you page).

Algoritma menjadi semacam tuhan yang diam-diam menentukan siapa yang layak dilihat, siapa yang relevan, dan siapa yang pantas untuk diikuti.

Seseorang bisa memulai akun dakwah digital, bukan sebuah panggilan untuk menyebarkan pengetahuan religiusitas, melainkan karena melihat kalau konten religius sedang naik pamor dan mudah menghasilkan cuan.

Evolusi atau Distorsi?

Tinggalkan Balasan