Memudarnya Identitas Manusia Modern

Tidak semua perubahan identitas menjadi keburukan. Ada yang tumbuh dari kesadaran. Ada yang tumbuh karena memori masa lalu. Atau, dari penemuan nilai baru yang menciptakan makna kehidupan.

Tapi, ada satu hal yang harus kita khawatirkan, yaitu perubahan seseorang yang bukan berasal dari dalam dirinya, tetapi dari pihak eksternal yang terus-menerus menuntut kita untuk “barang yang bisa dipamerkan dan dijual-belikan”.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Jean Baudrillard menyebutkan kita hidup di era simulakra. Citra seseorang lebih kuat dari realitas kehidupan. Dalam konteks ini, manusia modern bukan lagi pelaku pencarian makna, baik duniawi maupun ukhrawi, tetapi pencipta citra pribadi. Maka identitas kehidupan manusia modern menjadi ajang pertunjukan yang harus terus dipelihara, diperbarui, dan ditingkatkan agar tetap teratas dan eksis.

Ini adalah distorsi. Bukan karena perubahan manusia itu merupakan fitrah dari Tuhan, tapi sebab manusia sudah kehilangan arah kiblat perubahan yang semestinya. Kita terus berubah, tapi tidak tahu untuk apa dan untuk siapa. Dan kita terus bergerak, tapi tidak arah dan tidak tahu mau kemana.

Pertanyaan sebelumnya bukan semata-mata dilema pribadi, tetapi tentang eksistensi yang terus hadir di era modern seperti sekarang. Kita harus sadar, bahwa manusia sekarang sedang menyaksikan sebuah evolusi. Menyaksikan manusia yang tidak lagi dikurung oleh tradisi dan budaya yang kolot dan mengikat. Mereka sudah lebih pandai untuk mengembangkan hingga mengekspresikan tradisi dan budayanya.

Namun, sisi negatifnya adalah, ketika kebebasan itu tidak bisa ditopang oleh kedalaman makna dan nilai, maka akan mudah tergelincir ke dalam jurang distorsi. Di sinilah posisi paradoksal manusia modern. Mereka berhak bebas, tetapi terpenjara oleh kebiasaan. Mereka sudah merdeka, tetapi kehilangan peta untuk berkelana.

Evolusi yang tidak disejajarkan dengan kebijaksanaan eksistensial akan menjadi kebisingan distorsi abadi. Di mana manusia sibuk mencari jati diri di media sosial, bukan mencari makna kehidupan pribadi.

Maka, jawaban atas pertanyaan sebelumnya adalah, apakah manusia modern mampu untuk mencari makna dan nilai di balik algoritma media sosial? Jika mampu, kita bisa menyebut ini sebagai evolusi kebijaksanaan.Jika tidak, maka bisa kita sebut sebagai distorsi.

Distorsi itulah yang sebenarnya sedang kita jalani sekarang. Tanpa sadar kita tersenyum palsu dan berbohong akan realitas sebenarnya di depan publik.

Tinggalkan Balasan