Menafsir Waktu dalam Puisi

Sementara, dalam lirik puisi berjudul Meniti Waktu yang ditulis Mukhlisin, yang dirilis di duniasantri.co pada 14 Desember 2020, waktu menjadi energi puitika histografi dalam menjalani kehidupan. Meniti artinya melewati, bergumul dengan waktu, mengurai anjangsana kebaikan.

“Aku meniti waktu//menuju tanah-tanah//berbatu.”

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Aku lirik (aku puisi) dalam puisi ini, penulis mengambarkan sedang mengarungi masa menuju (disengaja atau tidak) sebuah tujuan (yaitu: tanah-tanah berbatu). Ungkapan ini merupakan sebuah metafor dari ujian perjalanan sejarah. Bahwa tiap jengkal ruang kehidupan adalah sebuah ujian (berbatu). Tetapi yang pasti, hidup itu sendiri memang merupakan sebuah batu ujian.

Dalam al-Quran, Surat Al-Baqarah ayat 155, Allah berfirman, “Dan sungguh akan kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.”

Pada sebuah tujuan hidup, di tanah berbatu, atau di padang berumpun mekar purnama, tanah yang terpijak, ada buah rindu yang akan kita petik.

“Sebab, di sanalah//kekasih//kelak kita menanam//buah rindu.”

Rupanya, penulis puisi bersajak ini sedang bercakap pada “kekasih”. Tautan diksi “kekasih” dapat sebagai seorang istri, anak, atau bahkan sang Mahakasih. Untuk yang terakhir ini, meski memungkinkan, terkait dengan pilihan bentuk kata, sepertinya kurang pas. Sedangkan, untuk pendamping hidup, istri, terkesan adanya kecenderungan ikatan. Wallau A’lam, hanya Allah dan penulisnya yang mengetahui.

“Menanam buah rindu,” sepenggal lirik bernuansa romansa. Ketika buah rindu tertanam di antara jalinan kekasih yang halal, kelak akan didapat bunga sayang dan buah hati. Dan kelindan kerinduan dan cinta bernuansa di antara hakikat waktu. Sudah sepantasnya kita memperhatikan waktu agar ke depan, yang berawal dari masa lalu, bersiap di masa sekarang, untuk mendapatkan kesempurnaan hidup, baik di dunia maupun di akhirat.

Tinggalkan Balasan