“Aku mengukur jarak//menjadikannya seindah//berlarik sajak.”
Jarak adalah rentang sebuah tempat atau ruang, yang dapat dipersepsi dengan dekat, sedang, dan jauh. Dalam jarak dan waktu terjadi sebuah kesalingan, karena waktu diperlukan dalam menempuh suatu jarak. Semakin jauh jarak yang ditempuh, biasanya memerlukan waktu yang semakin banyak (lama )— pada saat kecepatan konstan. Dalam fisika disebutkan bahwa antara jarak dan waktu terjadi perbandingan searah. Artinya, semakin banyak waktu yang diperlukan, maka akan semakin jauh jarak yang ditempuh. Tentu berbeda dengan metafisik yang tidak ada kaitannya dengan tempat atau ruang dan waktu.

“Seindah berlarik sajak” pada bait ketiga sama dengan “bertanam buah rindu” pada bait sebelumnya (bait kedua). Namun, interpretasi lirik sajak lebih luas menjangkau segala bentuk kebaikan. Sedangkan, bertanam buah rindu melingkupi nilai romansa di antara kehidupan berkeluarga. Kedua frase tersebut menasbihkan kisahan jejak kehidupan yang akan dikenang sebagai buah kebajikan.
“Sebab, di sanalah//kekasih//kelak buah rindu kita//beranak-pinak.”
Masih setia dengan kekasih, istri, atau bisa jadi seseorang yang dicintai, meski orang tersebut bukan istri. Memahami marwah pencipta puisi, tidak terbersit sedikit pun untuk membangun ujaran tafsir yang tidak semestinya. Maka “di sana” pada sebuah tempat akan tercipta sebuah nostalgia yang akan melahirkan belahan hati bersulam jantung. Anak-anak yang akan lahir dengan membawa kesucian rindu dan kharisma cinta. Berharap di reranting waktu, pada saatnya nanti, kita membangun istana keluarga sakinah, mawadah, dan rahmah.
Waktu yang membawa kita pada suatu masa. Sedangkan, kita adalah pengisi ruang dan waktu. Jangan sampai kita terpedaya oleh waktu (kematian) yang bisa datang sewaktu-waktu. Bersiap mengisi ruang dan waktu dengan taqarrub, mendekatkan diri bersama zikir. Sebab di ujung waktu adalah cinta untuk bersua dengan Allah.
“Demi masa. Sungguh, manusia berada dalam kerugian, Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan serta saling menasehati untuk kebenaran dan saling menasehati untuk kesabaran.” (QS. Al-Ashr: 1-3)
Wallahu a’lam bis shawab!
